Hidup adalah jual beli, maka jadikan Allah sebagai mitra bisnis, kemudian jadilah entrepreneur sejati. Hidup hanya sekali dan mesti manfaat!! Selamat datang di Blognya si Voe. ^_^ Salam ukhuwah.

Selasa, 26 April 2011

Dibalik Kesulitan Ada Kemudahan

Bismillah.

Allah memberiku kejutan. Dia punya banyak cara untuk menyenangkan hati hamba-Nya.

Ini pertama kalinya, ane dapat amanah jadi sie'Kestari dari UKM Kerohanian untuk event Keputrian, Woman Days. Tugasnya buka stand pendaftaran, nrimo uang pendaftaran, pokoke yang tugasnya mencari peserta jugalah.

Nyaris dua minggu ane buka stand pendaftaran d 2 tempat, di Shelter and Galery Kopma. Dan H-1, ente tau gak sih berapa orang yang daftar? Cuma 17 orang!! dan yang lebih kerennya lagi yang baru bayar cuma 8 orang! Gimana perasaan ente tatkala ente yang jadi kestari trus nrima kenyataan peserta cuma 8 orang?! Huaaah!! lu bisa banyangin lah gimana hati gw ketika itu (mewek.com)

Dan hampir setiap hari Keput UKM (merangkap jadi ketupat) menanyakan jumlah peserta. Duuuh, gak tega mau balas, kalau tau kenyataannya.

Sedih sangad. Mana di H-1 gak ada rapat sama sekali! Gak ada juga fixasi. Huaaah!!! Pengen berderai air mata ane ketika itu. Mana ane gak tahu sama sekali perihal sound, konsumsi, dll, apakah udah fix atau belum.

Ampe2 ane SMS ke beberapa akhowat, "Sedih e sama UKM"

Namun, ada yang membalas, iiih, mb yang kucintai karena Allah, "Insya Allah pesertanya banyak, dek. YAKINLAH." Luar biasa, SMS ini tanpa ia sadari mampu membawa energi baru dalam hatiku (gaklebay ye).

Memang sich, banyak nomor baru masuk ke HP ku yang elegant dengan tempelannya. Menanyakan perihal perlombaan dan Semnas. Tapi itu tak cukup memberi kepastian mereka ikut apa gak.

Yah, sekarang satu2 nya harapan tempat bergantung hanya Allah Ta'ala. Ingat ta'limat ketika itu, sholat tahajud dan berharap Allah memerintahkan kepada pasukan malaikatnya untuk meramaikan majelis ilmu itu.

Sewaktu Hari H. Pukul 07.00 berangkat dari rumah, dan ngeliat Keput UKM duduk di depan Gedung C. Hiks, gak tega ngeliatnya. Mana beliau yang beli perlengkapan, nyari dana, dll, dan diriku mengecewakannya. Oh God, what the pity i am!

Adek2 ane dari Rozul (tim nasyid) dah pada ngumpul di depan Gedung C. dan yang bikin suprize ternyata audionya lagi dipasang sama pasukan ikhwan!! Huwaah. Gak nyangka ikhwaners juga peduli dengan acara akhwat. Jadi ingat pas Forum Annisa angkatan ane dulu '08, para ikhwan nya datang pas jam 6-an buat masang LCD, Microfon, dll. Lebih duluan dibanding para akhwatnya. Ya, inilah ukhuwah!

Yang bkin sh0ck dan bersyukur adalah Allah benar-benar mendatangkan pasukan malaikatnya untuk datang ke Majelis Ilmu. Allah membuka hati para wanita Bengkulu untuk datang ke acara kami ketika itu. Dan cukup bikin kestari kelimpungan dengan jumlah peserta lebih dari 160 orang. Dan alhamdulillah, kursi yang disediakan penuh dengan peserta (terharu.com).

Alhamdulillah, ada dari poltekes, stain, UMB. Huaaaah!! pengen tereak rasanya!!! kesedihan ane ketika itu memang sangat tidak beralasan. Bukankah ane punya Allah tempat mengadu dan mengemis? Ahk, Allah lah yang membolak-balikkan hati manusia, dan Janji Allah itu PASTI.

So, akhir kata, ane mau ngucapin terima kasih yang sebesar-besarnya buat mbak2ku yang telah berproses bersamaku untuk menikmati betapa indahnya ukhuwah kita. Menikmati betapa di balik kesulitan itu ada kemudahan. Dan Voe juga mau ngucapin maaf jika tidak bekerja secara profesional. Tapi, setidaknya kita sudah berusaha. Dan KITA BISA!!!

Yeaaah, AKU BISA!!! AKU PASTI BISA!! KU KAN TERUS BERUSAHA!!
*nyanyi e.

Rabu, 23 Maret 2011

Curhat Anak FISIP

“Salah satu pilar-pilar kebangkitan umat “Kejayaan Islam” ialah menguasai konsep-teori. Dimana ilmu-ilmu sosial rujukannya adalah Al-Qur’an dan Hadist.” (Ust. Bowo Trustco)

Itulah petikan kalimat yang diucapkan oleh Pak Bowo, trainer kelahiran 1960’an ini saat menjadi pembicara di Dauroh Murobbi yang diadakan oleh LDF MGC Pertanian. Point pilar ini membuatku tersentak dan membuka mata. Jika ilmu alamiah itu rujukannya Al-Qur’an dan Hadist, dan memiliki point-point ayat yang sangat banyak. Itu biasa. Namun, untuk ilmu sosial? Sosial itu abstrak dan berubah.

Kata-kata itu melucuti kembali semangat dakwahku di LDF-ku tercinta, Intellectual Moslem Community (IMC). Ya, bukankah Islam di Fakultas dilihat dari Rohisnya? Teringat akan cerita murobbiahku yang alumni FISIP, bagaimana sesaknya berdakwah di sana. Fitnah, tekanan, cacian, ahk sudah biasa. Tapi, itulah yang membuatku salut dengan mereka. Mereka seperti karang dihempas ombak. Kuat dan kokoh.

Aku sempat mumet dengan beberapa matakuliahku, terutama matakuliah “POLITIK”. Teori-teori yang mengadopsi dari teori-teori Barat menghiasi cerita-cerita dosenku. Belum lagi istilah-istilah mendunia dengan segala isme-ismenya. Kemudian, harus akrab dengan para dewa-dewa politik dan komunikasi, siapa lagi kalau bukan Guru Besar Filsafat, Plato, Aristoteles, Laswel, dll dengan teori-teori mereka.

Kalau bukan cerita dari Murobbiahku yang menyeimbangkannya dengan cerita-cerita politik Rosul, mungkin sudah tergila-gila aku dibuat oleh Aristoteles dan dewa komunikasi abad 20. Politik dan Komunikasi ala Rosulullah benar-benar memikat hatiku. Tidak njelimet, ribet dan sangat mudah dipahami walau susah dipraktekkan. Politik persfektif Khalifah Khilafah Islamiyah. Luar biasa. Luar biasa. Betapa mereka telah memberikan contoh (praktek) yang nyata tanpa banyak teori. Teori sejatinya Cuma satu, “Ridho Allah dan Jannah.” Rasulullah dan para sahabat telah memberikan contoh nyata bagaimana berpolitik yang benar, berhukum yang adil, dan berkomunikasi yang efektif.

Bahkan Rasulullah benar-benar membuatku tergila-gila dan pantaslah jika aku menjulukinya, “Komunikator Sejati”. Kata Dosenku yang mengadopsi teori Barat, tak ada orang yang memiliki sahabat lebih dari 4 orang, jika pun ada yang benar-benar akrab paling Cuma dua orang. Namun, 14 abad yang lalu, saat ditanya, siapakah orang yang paling dekat dengan Rasulullah, semuanya mengaku sebagai sahabat terdekat Rasulullah, tanpa terkecuali. Ya Robb, kisah ini benar-benar membuat bulu kudukku merinding. Ternyata, hanya beliau yang memiliki sahabat yang suaangaaat banyaak!!!

Belum lagi kisah pemuda usia 25 tahun, seorang buta huruf namun menjadi pengusaha sukses di wilayahnya. Yang tak kalah hebatnya, mahar untuk istrinya saja 20 ekor Onta. Uugh!!! Kereen Jiddan ey!!! Beliau benar-benar membuatku terpesona dengan komunikasi Bisnisnya, baik dalam organisasi dan lintas budaya. Pesonanya benar-benar berbinar hingga saat ini. Dan hingga sekarang, belum ketemukan seorang ahli komunikasi bisnis pun yang mampu menyayingi Rasulullah saw. So sweet.

Hmm... Tantangan ini sungguh berat, dan kuminta Allah untuk memberi kekuatan untuk mengecilkannya. FISIP adalah medan yang luar biasa. Ya Allah, mayoritas dari mereka beragama Islam. Mereka adalah orang-orang Sosial dan Politik. Tetapi, tingkahnya bukan seperti orang sosial dan politik yang muslim. Tak sanggup aku membayangkan bagaimana Indonesia ini akan dibawa jika orang-orangnya seperti itu menjadi pemimpin. Meremehkan dakwah, tak menghargai orang lain, melecehkan takbir, korupsi dana kegiatan, dll.

Ya Allah, betapa aku mencita-citakan konsep dan teori yang kami pelajari di kampus ini adalah konsep dan teori yang berasal dari Al-Qur’an dan Hadis. Betapa kami mengharapkan dosen-dosen yang mengajar adalah mereka yang meng-idolakan Rasulullah bukan yang mendewakan para Aristoteles.

Jalan ini masih panjang. Saatnya membenari diri, orang-orang disekitar, hingga lingkungan. Maka, Insya Allah kita bisa mengubah dunia. Insya Allah, BISA. BISA. BISA.


*dengan doa dan air mata
*Ya Allah, aku memohon Ampun atas dosa-dosa yang telah kuperbuat selama ini.
*Betapa aku ingin pilar-pilar kebangkitan Umat ini berawal dari sebuah lembaga dakwah kecil “IMC” yang kemudian meluas di FISIP UNIB lalu meluas ke UNIB dan akhirnya dunia.

Sabtu, 19 Maret 2011

Tarbiyah:: Curhat Seorang Dinda


Seorang binaanku membisikkan suaranya ke telingaku, meminta agar aku meluangkan waktu barang sejenak untuk menemaninya pasca liqoat. Aku menangkap wajahnya dalam kepucatan. Aku mulai mengerti, ini pasti ada hubungannya dengan materi yang kusampaikan hari ini. Mengenai, Tauhid. Dan ujung-ujung menyerembet ke hati yang menduakan Allah.

Aku membaca air mukanya, kesedihan dan penyesalan luar biasa terpancar dari wajahnya. “Mbak, ana pacaran.” Katanya menunduk.

Minggu, 06 Maret 2011

Sahabat, Ku TUnggu Kau di Stasiun UI

Kapan Voe ke Jakarta?
Aku gak sedih lagi, kalau kamu ke Jakarta!
Ntar ana antar ke kuliner di Jakarta, deh.


Itulah tiga potong kalimat yang menjadi salah satu motivasiku kenapa harus ke Jakarta. Menemui sobat dunia mayaku yang kukenal lebih dari setahun yang lalu lewat Facebook.

Komunikasi kita berlanjut via SMS. Entah kenapa awal perkenalan via dunia maya dan SMS membuatku ingin sekali menjumpaimu.

Allah Maha Besar, Allah memberi rezeki dari arah yang tak diduga. Subhanallah, Allah memberiku peluang ke Jakarta untuk mewakili Kopma kampusku lomba di Universitas Indonesia, Depok. Salah satu keinginanku akan terkabul, berjumpa denganmu, Ndah.

Sehari sebelum berangkat, aku membeli soevenir khas Bengkulu dan makanan khas Bengkulu. Aku membeli manisan terong, anak tat, dan pisang salay dari Bengkulu. Ku susun rapi makanan itu dan ku beri bungkus berwarna putih.

Sengaja aku datang lebih cepat ke Jakarta, untuk mengikuti agenda Salam UI "10 jam 10 juz", dan aku harap kau datang saat itu. Dan kau bilang padaku, kalau kau akan datang, walau tak mengikuti agenda hingga selesai. Kusiapkan semua bingkisan untukmu di dalam tas ranselku. Namun, aku mengerti, kau seorang aktivis, ada agenda penting dan mendesak yang membuatmu tak datang pada hari itu. Tapi, harapan itu tetap ada, aku bisa menjumpaimu esok harinya, saat aku bermalam di Depok. ^,^

Hari Rabu, seusai perlombaan, kau mengajakku untuk iftor bareng besoknya di hari Kamis via SMS. Alhamdulillah, ada makanan dari teman satu timku yang belum di makan malam itu, jadi aku bisa makan sahur agar bisa puasa. Dan aku sangat senang membayangkan kita pergi ke Detos untuk iftor jama'i. Kita saling sepakat untuk bertemu di stasiun UI, padahal aku tak tahu jalan menuju stasiun UI. Namun, aku tetap ingin menjumpaimu. Tentu ini akan menjadi pelipur kekecewaanku akan hasil perlombaanku. Namun, Allah maha Bijaksana, Allah menurunkan hujan di saat kita akan pergi bersama. Akhirnya, aku berbuka sendiri dengan susu kotak kemarin sore.

Hmmm...

Jum'at pagi, hari terakhirku berada di Depok. Aku keliling UI dan kau meneleponku. Ku katakan, "Jangan sampai kita gak ketemu." Dan kau jawab, "Iya, padahal kita sudah dekat". Jum'at sore seharusnya aku dan timku sudah kembali ke Bengkulu, namun ku bujuk mereka untuk menambah satu hari lagi di Jakarta, agar bisa jalan-jalan besoknya.

Sabtu, tak kudengar kabar darimu. Aku menginap di penginapan wilayah Jakarta Timur. Pukul 09.58 wib., kau meng-SMS-ku untuk mengajak bertemu ba'da dzuhur nanti siang. Hati ku menangis ketika itu juga. Tak terasa air mataku juga jatuh. Hp kupegang lemas, dan kukatakan bahwa jam 10.00 aku sudah pulang ke Bengkulu dan saat itu aku sudah berada di atas kendaraan yang siap melaju ke Bengkulu.

Aku lihat bingkisan putih yang hanya berisi dua jenis makanan lagi. Aku tak mau membawanya kembali ke Bengkulu, bingkisan ini harus ada yang mengambilnya. Semenit sebelum berangkat, aku turun menuju loket menitipkan bingkisan itu untuk seseorang agar diambil. Di tengah perjalanan, aku bahagia, akhirnya bingkisan itu tidak kembali lagi ke Bengkulu. Alhamdulillah ada yang mengambilnya.

Di kampus pagi ini, dua hari sepulang dari Jakarta, aku membuka kantong ransel. Di dalamnya ada sovenir gantungan khas Bengkulu yang ingin kuberikan pada Indah. Masya Allah, timbul kesedihan lagi dalam hatiku. Sovenir ini belum sampai ke tanganmu. Allah belum mempertemukan kita.

Entah sebulan, setahun atau mungkin kita tidak akan pernah bertemu. Tapi, satu hal. Terima kasih telah memotivasiku hingga sejauh ini. Ndha, aku bisa lihat monas dengan dekat, aku bisa jama'ah di masjid Istiqlal Jakarta, dan aku bisa bermalam di Depok, tentu saja, ini tak lepas dari motivasimu. Menjadi temanmu adalah indah. Syukron sahabat. Selanjutnya, tunggu aku di stasiun UI.

Voe Khadijah

Sabtu, 05 Maret 2011

Jangan Meremehkan Tuhan


Saat pengabdian masyarakat di Benteng, adek bontot ane ikutan. Bukan karena dia anak kecil yang sedikit-sedikit pengen ikut kalau ane pergi (itu sih kisaran 10 tahun lalu). Sekarang dia udah menjelma sebagai seorang remaja laki-laki dan sekarang berperan sebagai supir ane. Hihihi. 

Terkadang, walau Mas (panggilannya) menyebalkan, tapi banyak kata-katanya yang menginspirasi ane. Contohnya tatkala, kami berdua duduk saat penyuluhan siang itu.

“Mas, do’akan Inga yo, biar bisniss plan inga masuk 10 besar.” Ana bener-bener berharap bisniss plan ana kali ini bisa masuk 10 besar. Walau tanpa pembimbing, kami ingin membuktikan bahwa kami pun bisa.

“Jangan meremehkan Tuhan.” Katanya singkat.

“Heh?” Ane tercengang dibuatnya. Minta do’akan dibilang meremehkan. Maunya apa coba?!

“Iya, Kenapa mesti minta 10 besar? Kenapa tidak langsung minta jadi jawara? Kalau sudah minta jadi jawara satu, pasti masuk 10 besar. Atau kalaupun tidak masuk 10 besar ada yang lebih baik bagi Allah untuk menentukan tadirnya.” Dia menjawab keherananku. Kemudian kembali melanjutkan, “Mudah bagi Allah untuk membuat kita sebagai pemenang, jadi jangan minta 10 besar. Mintalah sebagai pemenang atau sebagai juara 1. Hmm. Soalnya kalau minta 10 besar, kesannya Allah Cuma bisa ngasih segitu.” Walau njelimet. Ane ngerti isi dari penjelasannya.

“Nyontek dimana?” Tanyaku heran.

“Mario Teguh.” Jawabnya singkat.

Tuuuuh kan?! Apa gue bilang. Pasti dia nyontek nih kata2. Hehe. But, benar banget. Mintalah sebagai pemenang. Walau gak bener2 menang di perlombaan, tapi menang di tempat luar biasa yang Allah takdirkan. Karena Allah akan selalu memberi yang terbaik buat hamba-Nya.

Seminggu kemudian, aku harus menerima kenyataan ditolaknya BP-ku. Luar biasa! Mungkin memang bukan disini tempatnya.

Seminggu setelah pengumuman, seorang dosen menjelma sebagai seorang investor yang seolah-olah siap membantu mewujudkan BP kami. Saatnya bergerak di ekonomi!!

Subhanallah, ada2 saja jalan Allah untuk menyenangkan hati hamba-Nya.


5-3-2011














(Foto adek bujangku.)

Sabtu, 26 Februari 2011

Aku Mencitai Prosesku di Tarbiyah

Bismillahirohmanirohim...

Ini mungkin hal yang memalukan. Tapi, mengingatnya semakin membuat saya mencintai proses yang Allah berikan kepada saya. Panggung. Saya telah mengenal panggung sejak SD. Seringkali menjadi perwakilan sekolah saya mengikuti lomba baca Puisi. Dan kian berlanjut ke SMP, saya masuk Teater. Saya bersama teman-teman sering mengisi acara hingga tengah malam untuk membaca puisi. Di walikota, DPR, TVRI dll.

,,,....,,,

Saya mengira, berdiri di atas panggung dengan berbagai expresi membuat saya berani menghadapi segala sesuatunya. Termasuk menghadapi MOS saat masuk SMA. Namun, dugaan saya salah. Saya memang tetap menjadi orang yang vokal di kelas. Tapi, dilapangan, saya HANCUR!

Hmmm....

Saya ingat bagaimana senior itu membentakku di tengah lapangan. Menyuapkan daun ke mulut saya. Mengagetkan dan memotong kuku saya tanpa seni. Saya terduduk, jantung berdebar, dan menangis sesenggukan. Tangan saya bergetar hebat, seorang senior perempuan menghampiri. Kupegang tangannya erat, dia memelukku. Muka ku pucat.

Dia memintaku untuk istirahat. Tapi, lama.. lama, kondisiku baru normal seperti biasa. Aku benar-benar shock!!

Senior itu KEJAM.
,,,....,,,

Inilah nikmatnya proses.
Inilah nikmatnya proses.
Inilah kasih sayang Allah.

Allah mengenalkanku pada orang-orang hebat. Mengeggam tanganku erat, merangkulku pada tarbiyah. Luar biasa. Banyak hal yang kudapati selama prosesku. Menjelang ujian SMA, saya mulai bersama pementor IIESQ, membina kelas. Di sanalah retorika kupraktekkan. Keberanian diri mulai terbentuk.

,,,...,,,

Inilah indahnya proses. Senangnya mengenal ukhuwah. Senangnya bisa bangun malam. Senangnya bisa punya banyak teman. Dan senangnyaaa Allah cinta.

Tarbiyah.. Tarbiyah membuka wawasanku. Tarbiyah memotivasiku. Tarbiyah mengangkatku. Dan Allah begitu mencintaiku, Insya Allah.

Proses....

,,,...,,,

OSPEK kampus di mulai.
Saya masuk FISIP.
Fakultas yang terkenal dengan killer OSPEK.
Seniornya kejam, OSPEKnya benar-benar jadi ajang balas dendam.
Benarkah????

Menyedihkan. Laki-laki bajunya dibuka dan dimasukkan ke dalam got dengan wajah menghadap langit. Sebagian di suruh teriak-teriak orasi. Dan yang lain ada yang di jahili.

Semua dimataku, tak lebih dari sebuah outbond, permainan, dan pembelajaran.
Sama sekali saya tak mengeluarkan air mata takut, gemetaran, pucat, atau pun pingsan. Saya hanya mengeluarkan air mata 2x, saat menyanyikan lagu "Darah Juang" dan saat bercerita tentang sahabatku di SMA sewaktu penutupan OSPEK.

Tarbiyah adalah prosesku.

Bahkan, saat mulut senior membentak tepat di mukaku. Saya tersenyum. Ahk, lucunya orang ini. Kasihan. Merusak diri karena gejolak amarah, begitulah pikirku. Ya. pola pikirku berubah.

,,,...,,,

Mungkin di sinilah bagian penuh hikmah itu. Saat MOS SMA, saya hancur dan terpuruk. Saat OSPEK, saya di buat berdiri di depan ratusan teman-teman saya, untuk menerima sematan sebagai "PUTRI MAPAWARU". Gelar untuk mahasiswa baru yang kalau kata panitia acara sih, yang paling aktif, dinamis, dll (hehe.. afwan bukan ujub).

Kaget!! Kaget saat seorang akhwat, berdiri di sana, untuk pertama kalinya. Dan lebih membuat mereka kaget, putri mapawaru itu tak mau salaman dengan ketua panitia. Nah lo!!

Tapi bagiku, inilah lambang kejayaan sebuah ketertindasan!!...

,,,...,,,

Inilah prosesku.
Tarbiyah membuka wawasanku.
Allah menguatkanku.

Maka, Nikmat Tuhanmu yang mana yang kamu dustakan.

Sungguh, aku mencintai Tarbiyah..
Kurasakan bagaimana nikmat dan sulitnya membina. Dan kurasakan juga bagaimana susahnya dibina.

,,,...,,,

Akhir kata, Tak pernah mau ku berhenti berjuang. Hingga kaki ini menginjak surga, dan menjadi penduduknya.

Jumat, 21 Januari 2011

Perempuan yang Mengerikan: Bak Ratu Lebah dan Kupu-Kupu Malam

Hanas dan Acha sedang berduaan di Mushola Sekolah tempat mereka mentoring. Tiba-tiba lewatlah beberapa semut hitam di hadapan Acha.

Acha : “Liat deh Han!”
Hanas: “Semut?”
Acha: “Ya. Mereka itu tiap bertemu selalu menyapa.”
Hanas: “Ukhuwah mereka bagus ya. Gue denger-denger kalau mereka gak saliman gitu, mereka bakal mati ya Cha?”
Acha: “Ya gitu. Soalnya, saat mereka berpas-pasan terus seolah salaman gitu, mereka itu saling memberi informasi. Misalnya, ‘eh, lu jangan lewat sono! Di sono kagak ada makanan!’ atau ‘awas lu, barusan di sebelah sana ada rayap yang guede yang lagi nyari mangsa.’ Nah kalo mereka gak saling ngasih tahu. Mereka bisa mati karena gak tahu info.”
Hanas: “Owh gitu toh?”
Acha: “Ye, selain itu. Mereka itu juga mengeluarkan bau yang khas, dan penciuman mereka tajam. Itu yang menyebabkan mereka itu jarang kesasar.”
Hanas: “Wwweeh, semut emang keren ya Cha!”
Acha: “Yupi! Sewaktu gue belajar tentang hewan anvertebrata ini. Dosen gue bilang, kalau mereka ini ada 3 jenis, Ratu semut, semut pekerja, sama semut jantan.”
Hanas: “Oowh, so sweet.”
Acha: “Nah, Ratu semut itu tugasnya Cuma kawin dan bertelur. Bentuknya paling gede dari yang lain. Pokoknya beda sendiri deeh. Sayang tabiatnya ngeri banget.”
Hanas: “Maksud ente?”
Acha: “Habis kawin, si Ratu memangsa semut jantan yang ngawini dia. Jadi gak ada pilihan lain bagi semut jantan selain mati.”
Hanas: “Gila! Kejam banget tu Ratu! Lebih kejam dari ratu-ratu Inggris.”
Acha: “Yup! Malam itu adalah malam terakhir dan pertama bagi si semut jantan.”
Hanas: “Ya ampuun. Kesian banget para semut jantan.”
Acha: “Nah, si Ratu ini ibarat perempuan yang gak tahu diri.”
Hanas: “Iya, gak tahu diri banget!”
Acha: “Ya, tapi gitulah kehidupan hewan. Hehe. Betina lebih kejam dari yang jantan.”
Hanas: “Bersyukur banget jadi manusia. Satu dan untuk satu. Kalau bisa yang pertama dan yang terakhir, fufufu.”
Acha: “Yoi, nah ada lagi yang seru Han.”
Hanas: “Apaan?”
Acha: “Di dunia kupu-kupu juga dikenal ada dua jenis, yaitu kupu-kupu siang ama kupu-kupu malam.”
Hanas: “Waah, hebat!”
Acha: “Dosen gue pernah nanya, ‘Kalian pernah liat gak kupu-kupu malam?’. Dan spontan temen-temen gue jawab, ‘Tuh pak yang sering mangkal di XXX’. Haha. Dasar, pikirannya ke sana mulu.”
Hanas: “Mang gimana ceritanya?”
Acha: “Jadi gini. Cara bedainnya, kalau lu liat kupu-kupu itu hinggap trus sayapnya mengatup atau menyatu, itu artinya dia kupu-kupu siang. Nah, kalo dia melebar atau mengembang itu namanya kupu-kupu malam, untuk segi ukuran mereka emang lebih guede!”
Hanas: “Huawwwh. Jadi itu toh filosofinya.”
Acha: “Pa’an?”
Hanas: “Seorang perempuan baik, akan menutup dirinya dari hal-hal yang gak baik. Sedangkan perempuan malam, membuka dirinya untuk siapa saja.”
Acha: “Yup!”
Hanas: “Alhamdulillah, gue manusia dan gue dikasih otak sama Allah. Dan gue gak mau, nafsu gue yang ngendaliin gue. Thanks for share, sob”
Acha: “Na’am.”


Kisah pagi Jum'at dengan sedikit edit. ^_^

Rudal Pasukan Hijau di Kelurahanku

Bismillah.

Jum’at sore, ada satu truk berhenti di dekat rumah, tepatnya di depan rumah pak RT. Otomatis depan rumah Pak RT dan rumah ortu saya, yang bersebelahan sama rumah pak RT jadi ramai dikunjungi warga. Oowh, ada apa gerangan?

Saya penasaran dan ikut melihat. Tuink, ternyata ada makhluk kecil berseragam hijau yang mampir ke kelurahan saya. Diih, Pak RT, sama Pak Lurah menyambutnya dengan ramah banget. Plus warga yang gak lupa bawa kertas keterangan.

Waah, pasukan berseragam hijau itu adalah rudal yang menakutkan. Mereka adalah kumpulan gas 3 kg yang siap dibagikan ke warga. Astagfirullah, bukan bermaksud untuk mendo’akan kalau gas 3 kg itu jadi rudal, tapi kalau ngeliatnya, saya jadi ingat kejadian-kejadian yang di luar kota. Gas meledak, menghancurkan rumah, dan menewaskan orang-orang.

Sewaktu jemput Emak, saya juga berpas-pasan dengan mobil pemadam kebakaran, sepertinya sedang terjadi kebakaran. Tapi, mudah-mudahan bukan karena gas. Aamiin.

pasukan 3kg

Yah, inilah kelurahanku, yang sedang kedatangan tamu. Semoga tamunya gak rewel dan bawel. Semoga pasukan hijau 3 kg ini mampu menyenangkan hati rakyat yang sakit. Dan semoga rudal eh, gas 3 kg ini dapat dimanfaatkan oleh warga sebaik mungkin. Mempermurah pengeluaran warga, dll.. Aamiin. ^_^

Senin, 27 Desember 2010

AKU CEMBURU DAN PATAH HATI, salahkah?



Cemburunya seorang istri/perempuan adalah tabiat wanita.
Cemburunya laki-laki/suami adalah syar’i.

SMS yang kuterima ini mengawali hariku pagi ini.
Ku forward SMS yang sama dengan salah satu saudariku, yang kucintai karena Allah.
Tak lama SMS ku bersahut.

Kalau cemburu pada saudarinya?

Ya Robb. Aku menangis kembali (mewek.com). Kuperiksa hatiku. Ada luka di sana, ada cemburu, bahkan patah hati juga meradang. Astaghfirullah. Aku sadar, Aku CEMBURU. Aku perlu menata hatiku.
Ku balas,..

Hiks.. itu menyakitkan bagiku.

Huaaah… betapa inginnya kuteriakkan penatnya hatiku pagi ini. USai mengadu dengan Allah malam tadi, cukuplah bagiku menyimpannya dan kuadukan kembali di pagi hari menjelang dzuhur nanti.

Aku memang seringkali disebut “cewek” gak normal sama saudari, sahabat, bahkan kakak-kakakku karena susah atau mungkin belum pernah suka dengan lawan jenis. Walau ke”tidaknormalan” ini tergolong aneh, tapi menikmatinya sungguh indah. Hehe.. namun, beda dengan halnya dengan akhwat atau perempuan, aku cepat sekali menyayangi mereka. Lama tak bertemu, cepat sekali rindu rasanya.

Ini bukan kali pertamanya aku merasa cemburu bahkan patah hati. Beberapa saat yang lalu, aku bersama saudariku merasakan rasa yang sama terhadap seorang ukhti. Tatkala kami tahu apa yang menyebabkannya mundur dari dakwah. Runtuh sudah air mata ni. Menyakitkan. Aku cemburu tatkala ikhwan itu menggantikan posisi kami. Aku cemburu tatkala ikhwan itu lebih mempesonanya. Yang lebih menyakitkan, dia rela menggantikan posisi Allah dan dakwah di hatimu dengan ikhwan itu.

Kali ini, terulang kembali.

Inikah salahku, karena tidak memberikan hakmu dari ku? Maafkan aku jika ada dari dirimu yang terabaikan. Sungguh, aku mencintaimu karena Allah, dan aku cemburu.

Cemburu, saat aku tahu kau sering jalan berdua dengannya. Ya, HANYA BERDUA. Oh, tidak, tentu saja ada yang ketiga, yaitu, SETAN!! Ya, selama ini kau tidak berdua, tetapi bertiga bersama setan. hiks.. aku cemburu, ukh…

Tak lama setelah aku tahu kau sering jalan ber”tiga”, aku tidak hanya cemburu, bahkan PATAH HATI saat kulihat kau relakan badanmu disentuhnya. Ya Robb, betapa aku menyayangkan dirimu yang rela tubuh berbalut jilbab itu disentuh dengan laki-laki yang tidak halal bagimu.

Tak takutkah kau menjadi “daun” yang lebat mengayomi dakwah, lantas kemudian “layu” gugur berserakan karena waktu.

Tak takutkah kau menjadi “buah” yang manis dan ranum, lantas “busuk” disentuh ulat.

Ya ukhti…
Aku tahu kau pasti tahu kalau Allah itu Pencemburu.
Janganlah kau sisikan Allah dihatimu dengan laki-laki itu.

Karena…
Karena kau belum merasakan sakit saat laki-laki itu meninggalkanmu.
Karena kau belum merasakan hancur saat dia pergi begitu saja.
Kenapa kau rela menggantikan Allah yang jelas-jelas tidak akan menyakiti dan menghancurkan hatimu dengan laki-laki, yang tentu saja tidak sayang denganmu.

Jika dia sayang denganmu, ku yakin dia
TAK KAN PERNAH MENGAJAKMU BERDUA DENGANNYA.
TAK KAN PERNAH MAU MENYENTUHMU SEBELUM MENJADI ISTRINYA.
TAK KAN PERNAH MENGAJAKMU BERMAKSIAT DENGANNYA.

Hemmmmmmph…
Ber-SABAR-lah.
Allah akan menjawabnya di “SAAT YANG TEPAT”
Karena dia “CERMIN” dari diri kita
Mari sama-sama kita “MEMPERBAIKI DIRI”
Karena semua
“INDAH PADA WAKTUNYA.”



By: *Voe*
“Be Khadijah-nya Muhammad”
Kupersembahkan pagi ini untuk senyum kepedihan,
Tak kubiarkan ia tetap menggerogoti hatiku.
Akan kutata hati ini kembali.
Karena sejatinya, kita butuh dakwah!


Jumat, 08 Oktober 2010

Surat untukmu, Nak; “Goresan Hati untuk yang Ku Kenal Lewat Hati”

Surat untukmu, Nak; “Goresan Hati untuk yang Ku Kenal Lewat Hati”

good girl
Sepenggal surat ini kutulis melalui hati yang menggerakkan jemari, spesialuntukmu, Nak. Dari calon Ibumu.
Hari ini, lama sebelum Ibu mengenalmu, ibu menulis surat untukmu, Nak. Ada harapan,cinta, dan luapan sayang yang Ibu tulis jauh sebelum ibu merasakan kehadiranmudalam dekapan kasih Ibu.

Ibu mengenalmu, bukan lewat fisik, tapi lewat hati. Sekarang, Ibu memang belumbisa melihatmu dengan mata indrawi Ibu. Tapi, ibu bisa melihat dirimu di dalamhati Ibu. Melihatmu beranjak besar, juga melihatmu merapikan kerudung kecilyang tampak miring di mukamu. Mengganti celana bermain dengan rok yang Ibujahit untuk hadiah puasa pertamamu. Dan hal terindah yang ibu lihat adalah saat kau bisa membantuorang lain dengan senang hati. Sungguh, kamu meneduhkan pandangan Ibu. Ibumelihatmu bersemi dengan pakaian terindahmu, taqwa.

Ibu mengenalmu, bukan lewat suara merdumu, tapi lewat hati. Hatiku mendengarkantangisan pertamamu saat terlahir ke dunia yang pecahkan keheningan malammencekam, Ibu akan menangis haru saat itu. Ibu juga mendengar ayahmu,melantunkan adzan ke telinga kananmu dan iqomat di telinga kirimu. Kemudian,saat kau mulai belajar bicara, Ibu mendengar panggilan “Ibu” keluar dari mulutmungilmu. Hati Ibu juga bisa mendengar lantunan hapalan Qur’anmu yangterbata-bata saat kau setorkan pada Ibu di usia menginjak dua tahun.

Ibu mengenalmu, lewat hati, Nak. Terasa begitu indah membayangkan bisabersamamu. Bersama seorang anak dambaan hati. Ibu sangat bersyukur, Allahmenitipkanmu pada Ibu dan Ayahmu. Tentu saja, Ibu akan menjaga amanah inisebaik mungkin, mengenalkanmu pada Sang Pencipta, memberikan cinta dan kasihyang tulus, serta mendidikmu agar menjadi anak solehah. Generasi harapanbangsa, bahkan Ibu sangat ingin engkau nantinya menjadi Ibunda para Ulama, yangmemiliki anak-anak soleh dan solehah.

Duhai anakku yang kukenal lewat hati, amanah dari Sang Pemilik Hati yangmemiliki 99 nama yang indah, Asmaul Husna, Ibu dan Ayah akan memberi nama yangindah dan bagus untukmu. Nama yang berarti do’a dan harapan Ibu dan Ayah. Ibutak mau durhaka kepadamu, dengan memberi nama yang asal dan berarti buruk. Ibutak ingin nantinya saat di hari pertanggungjawaban kau berkata kepada Allah,“Sebelum aku durhaka pada Ibu dan Ayahku, mereka sudah mendurhakaiku terlebihdahulu, dengan memberiku nama yang buruk.” Sungguh, Ibu tak ingin ini terjadi,Ibu ingin berkumpul bersama ayah dan anak-anak Ibu di surga, bertetangga denganRasulullah, Khadijah, Sahabat dan Anbiyah.

Duhai anakku yang Ibu kenal lewat hati. Ibu belum pernah bertemu langsungdengan para Sahabiyah. Tapi, Ibu sering membaca tentang kisah mereka, yangakhirnya membuat Ibu rindu ingin jumpa. Masih adakah orang seperti mereka dizaman sekarang? Zaman yang orang jahat dan baik sekalipun bisa mendapat fitnah?

Anakku, harapan Ibu tak kan pupus. Ibu ingin kau belajar dari wanita-wanitaseperti mereka. Ibu ingin kau bisa sesuci Maryam, itulah kenapa ibu telahmengajarimu untuk menutup aurat sejak kecil, agar tak ada laki-laki yang bisamenyentuhmu seenaknya. Ibu ingin kau sekuat Asiyah, istri Fir’aun yang dengantegas mengumandangkan agama Tauhid, karena ibu ingin engkau menjadi anak yangkuat saat ada badai fitnah datang menghempas. Ibu juga ingin kau sepertiKhadijah yang dewasa, sabar dan setia. Pengusaha baik hati dan sepenuhnyaikhlas terhadap suaminya. Dan ibu juga ingin kau setegar dan sesolehah Fatimahyang selalu beribadah pada Allah, mencintai Rasulullah dan menjadi ibu darianak-anak soleh seperti Hasan dan Husein.

 Menjadi bunda dari Ulama adalah impian Ibu, tetapi, menjadi Ibu dari seoranganak yang merupakan bundanya para Ulama adalah hal istimewa yang ibu rasakan.Walau sekarang Ibu hanyalah wanita biasa, tapi ibu ingin kau menjadi wanitayang istimewa, yang menyeru manusia pada kebajikan dan mencegah padakemungkaran.

Duhai anakku, tak ada yang perlu kau takuti di dunia ini, kecuali Allah. KarenaAllah akan menjagamu, saat kau lepas dari penjagaan ibu. Kau tak perlu merasasedih jika suatu saat kau dikucilkan teman sepermainanmu karena pakaiantaqwamu, tenanglah anakku, ada Allah yang akan menentramkan hatimu. Namun,ingatlah anakku, Allah juga akan menghukummu jika kamu lalai pada-Nya. Olehkarena itu, letakkan akhirat di hatimu, agar akhirat bisa mengatur hidupmu danletakkan dunia di tanganmu, agar kau bisa mengaturnya dengan sesuka hatimu.

Duhai anakku, Ibu ingin menjadi orang pertama yang mendengar ceritamu dan keluhkesahmu. Nak, Ibu tidak ingin menjadi seorang Ibu yang hanya kau kenal lewatfoto dan namanya saja. Ibu tak ingin menjadi Ibu yang tak kau jumpai saat kaubangun pagi, karena Ibu sudah pergi bekerja, dan Ibu yang tak kau jumpai saatmalam hari, karena saat ibu pulang kerja kau sudah tertidur pulas. Tidak! Ibuingin menjadi ibu sekaligus sahabat yang baik untukmu. Yang bisa kau temuisesuka hatimu, yang bisa kau ajak berbincang kapanpun kau mau.

Wahai calon bunda solehah, Ibu ingin menghabiskanwaktu untuk ibadah kepada Allah. Salah satunya adalah mendidikmu menjadi anakyang solehah. Ibu ingin engkau belajar memasak bersama ibu, mengurus pekerjaanrumah bersama ibu, menemukan kecenderungan prestasi bersama Ibu. Hingga nantiengkau akan menemukan kecenderungan akan prestasi dirimu, tentu saja ibu akanmendukungmu sepenuh hati Ibu, selagi apa yang kau lakukan tak bertentangandengan nilai agama kita.

Anakku, akhwat kecil yang kusayangi karena Allah.Tumbuhlah dalam cahaya Islam dengan keimanan. Tumbuhlah menjadi muslimahtangguh nan suci, dambaan Islam dan bangsa. Belajarlah menjadi muslimah yangmencintai Allah, karena dunia akan mencintai orang yang mencintai Allah.

Duhai, bidadari kecilku, tahukah kau bahwa di surga sana ada bidadari bermatajeli, perawan dan tak pernah disentuh siapapun? Ternyata mereka cemburu denganmuslimah bumi yang membasahi tubuh mereka dengan air wudhu. Dan dengan airwudhu engkau akan tampak cantik. Walau mata fisik tak melihatmu cantik, tapiyakinlah mata batin dan hati akan melihatmu jauh lebih cantik.

Wahai lebah kecilku, yang kuharap bisa bermanfaat untuk banyak orang, jadilahseperti lebah yang berasal dari hal yang baik dan menghasilkan hal yang baikpula. Dimana hasil yang baik ini sangat bermanfaat untuk orang yangmengunakannya.

Anakku, jika kau sudah baligh nanti dan Ibu bersikap keras padamu, ketahuilahbahwa Ibu sangat menyayangimu. Maafkan Ibu jika nanti Ibu tak mengizinkamukeluar malam tanpa didampingi ayahmu, Nak. Anakku, aku tak ingin kau menjadimuslimah lempem karena cinta nafsu belaka. Ibu ingin engkau menjadi muslimahtangguh, mujahidah yang istiqomah pada ajaran Allah. Walau terkesan berlebihan,tapi ibu sangat ingin melindungi dan menjagamu, maafkan ibu jika nanti ibu jugamembatasi pergaulanmu dengan lawan jenis yang bukan mahrammu. Sungguh inisemata karena ibu sangat menyayangimu. Ibu harus menjagamu, hingga nantiKsatria Langit yang di utus Allah datang menawarmu.

Nak, sebagai seorang Ibu, maka sepantasnyalah Ibu ikut campur dalam pemilihanuntuk pendamping hidupmu kelak. Seorang yang mencintai Allah dengan ikhlas,yang baik tutur dan perilakunya. Sebab, gen yang baik akan mempengaruhiperkembangan seorang anak, menjadi durhakakah atau solehkah. Sehingga, saatnanti engkau pergi bersama Ksatriamu, ibu ikhlas melepas dirimu untuk jihadmenjadi seorang Ibu.

Duhai permata hati yang kukenal lewat hati, inilah surat dari calon ibumu, Nak.Surat yang dibuat sebagai cerminan untuk perbaikan diri Ibu. Ibu harap, saatnanti ibu melihat wajahmu, mendengar suaramu, dan merasakan dekapanmu lewatindrawi fisik Ibu, ketahuilah, Ibu telah mengenalmu jauh sebelum engkau ada. Dan ibu mengenalmu lewat hati, Nak.

________THe End_______

Kamis, 23 September 2010

Jilbabku mau diGunting


Di  atas motornya, di tengah guyuran hujan, aku memasang telingaku tajam-tajam, agar bisa mendengar ceritanya. Dia mengemudikan motornya dengan kecepatan sedang. Saat itu aku tidak memakai helm, sehingga air hujan menusuk-nusuk kepalaku, menampar mukaku, dan membasahi jilbabku.

“Ukh, apa ana harus rusak dulu ya?” Tanyanya padaku.

“Maksudnya?” Aku tak mengerti dan balik bertanya.

“Tadi pagi ana nangis lagi. Jilbab ana mau digunting, ukh.” Suaranya sayup-sayup terdengar.

“Astaghfirullah. Kenapa? Siapa yang mau motong jilbab anti?” Aku menjadi cemas.

Selasa, 21 September 2010

Jangan Jadikan Jilbabku sebagai Alasan


 Menjadi seorang muslimah sejati adalah perjuangan bagiku. Hidayah itu muncul sejak aku mengenal seorang guru bercadar di SMP. Menjadi seorang guru di sekolah negeri umum, dengan pakaian yang hanya menyisakan dua mata itu bukanlah hal muda menurutku. Teman-temanku bilang beliau adalah seorang teroris, ada juga yang berbisik-bisik kalau beliau itu cacat, lebih parahnya teman laki-lakiku sering nyanyi ninja Hatori saat dia lewat. Dan aku tak menyangka, dahulunya aku bagian dari mereka, bagian dari segerombolan pengolok-olok.
 
Ntah kenapa, diam-diam aku mulai penasaran. Benarkah beliau seorang teroris? Apakah beliau termasuk salah satu aliran sesat? Atau memang wajahnya begitu buruk?

Rabu, 04 Agustus 2010

Antara Ana, Anti, dan Komitmen Nahnu

Antara aku, kamu dan komitmen Kita....

Lantai dua rumahmu menghantarkan diriku untuk menemuimu. Sebuah cerita besar siap diletupkan dari bibirmu. Pagi ini di ruang petak sambil mendengar sebuah musik kontemplasi, di mulailah sebuah keputusan dan pengharapan.

Keputusan besar, lebih besar dari umur kami.
Keputusan besar, lebih besar dari badan kami.

Bahkan mimpiku tadi malam menandakan kegelisahanku.
Bahkan ketidakyakinanku menandakan inilah yang akan terjadi.

Walau istikharah telah bergantu hajad.
Hajad berganti pengharapan.

Satu yang pasti, kau bidadari hebat dengan hati yang terjaga.

Di lantai dua rumahmu. Kita saling bergenggam.. Mematikan sebuah keputusan dan menuju sebuah harapan.

"Aku ingin punya banyak anak. Anak yang mendatangkan ridho Alloh. Multi Level Marketing terindah ini, haruslah aku menjadi salah satu dari pemainnya. karena, membina satu wanita sama dengan membina satu bangsa."

"Aku merindukan sosok putih abu-abu dan keindahan ukhuwahnya. Aku merindukan sosok jilbab putih yang penuh gairah melangkahkan kakinya menaklukan debu melintang."

"Sebuah komitmen pasti!! Terkadang ada banyak hal yang harus dikorbankan, termasuk semua impian-impian itu. Ya, mereka lebih butuh kita. Dan biarlah Alloh yang mengganti kelezatan semua impian itu."

"Cemburu aku tatkala tahu uang kas LDK mereka, 50 juta. Angka yang spektakuler yang dimiliki oleh para mahasiswa dan itu di dapat dari hasil yang mandiri. Dan semua ini adalah nominal dari sebuah proses. Proses. Segala sesuatu diawali dengan proses. Mereka sekedar langsung sukses, mereka sukses karena proses. 70% dari muslimah, mengenakan Jilbab. Ini suatu angka yang luar biasa. Menangis haru aku dibuatnya. Ingatlah semua kejadian di FISIp yang aku rasa wanita berjilbabnya saja tak lebih dari 5% saja. Inilah proses. Dan aku harus berada di proses ini."

"Biar nanti Alloh yang membalasnya. Aku tentu mengharap imbalan dari semua ini. Aku mengharap ridho dari Allah."

Di ruang itu... Satu komitmen lahir.. "WELCOME to NEW DAKWAH"

Insya Alloh... Kan kufokuskan diri untuk memperbaiki diri... Kan kufokuskan diri untuk bersama ukhtyna tercinta...

Good Bye,,, T.T

Senin, 07 Juni 2010

Sudah Tabrakan, Kena Tampar Pula

Udah jatuh tertimpa tangga pula. Mungkin begitulah kata2 yang pas buat akhwaters IMC, sudah tabrakan dapat tamparan pula.. xixix :D kejam mamat bahasanya si Voe.

Mana enggak?? Ane mau bagi story ma ukhty, sekalian ngingetin para hamad tercinta akan bubar kita pada Senin sore ini. dengan hujan dan ukhuwah kita pulang dengan hangat... hemph... Mulai...

Kalau ente kenal dengan akhowat IMC (FISIP poenya), eeeitzzz, tunggu bentar kalau ente merasa IKHWAN, berhenti membaca ini, dan pergilah jauh2 dari catatan ane.. karena ini bukan konsumsi buat klian... NGERTI?!!!

Hamad,,, inget gak klu Qt mayoritas dari hamad gak cuma para hamad tapi juga buat para akhwaters IMC kerend, punya akhowat yang khas punya.

Salah satu kebiasaan, yg mungkin udah jadi cap, "WAH AKHWAT FISIP BANGET!!!" adalah perilaku kita yang sering tabrakan.. eitzzz,, tabrakan warna baju cin!!! baju, rok, ame jilbab yg gak sepadan warnanya..

Tapi, sore tadi dapat tamparan yang soleh banget dari seorang ikhwan berlabel ustad yang ngisi tausiyah kader IMC sekalian iftor bareng,. kata Beliau, "Akhwat itu juga harus memperhatikan penampilannya, jangan pula pake pakaian yang warna-warni, jadi seperti pelangi. Pakailah pakaian yang sepadan warnanya," gitu sih kurang lebih...

Ghok!!!!

Spontan beberapa hamad plus yg lain, cekikikan menertawakan diri mereka sendiri yang notabene nya hobi tabrakan. Yeah, hari ini udah tabrakan kena tampar pula.. hihihi... note yg garing!!!

Jumat, 29 Januari 2010

Mereka di Tengah Aksi

Aksi di tengah guyuran hujan kali ini emank luar biasa. Sangat luar biasa. Bukan. Bukan para orator yang menarik perhatianku kali ini. Tapi ada beberapa orang di antara para demonstran yang membuat mataku lekat pada mereka.

1.    Seorang Kakek Bertongkat
Humph, aku memang tak tahu namanya. Tapi, tampilan fisik yang begitu terngiang dalam ingatanku ialah kakek itu memegang tongkat untuk membantunya berjalan. Saat hujan mulai turun rintik-rintik di jalan Soeprapto, kakek itu selalu mengawasi kami dan mengikuti kami dari samping. Kemudian, tampak ia berbicara dengan beberapa aktivis demonstran di barisan laki-laki. Lalu tak lama ia menuju demonstran wanita dan berteriak seraya berdoa, “Semoga hujan ini berhenti. Berjuanglah kalian, uang kita sudah banyak di ambil mereka (birokrasi-red).” Ya, kurang lebih begitulah. Tak ku sangka ia tetap memantau hingga orasi di Simpang Lima.