Hidup adalah jual beli, maka jadikan Allah sebagai mitra bisnis, kemudian jadilah entrepreneur sejati. Hidup hanya sekali dan mesti manfaat!! Selamat datang di Blognya si Voe. ^_^ Salam ukhuwah.
Tampilkan postingan dengan label akhwat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label akhwat. Tampilkan semua postingan

Senin, 10 Agustus 2015

Nasihat Akhwat untuk Akhwat

“Ukhti, jangan lakukan itu lagi!” Kak Randa menatapku tajam. Aku tak pernah melihat Kak Randa, akhwat yang lembut kata-katanya, setegas ini padaku. Aku menunduk. Kutarik napasku dan kucoba untuk merangkai kata demi kata, yang sebenarnya hanya sebuah alasan berbentuk pembenaran.

“Kak Randa…” Kataku pelan. “Aku sudah menganggap Bang Saris sebagai abangku sendiri. Dan aku yakin Bang Saris juga menganggapku sebagai adiknya. Selama ini tidak ada yang aneh dari perangainya terhadapku.”

Kak Randa menyandarkan punggungnya ke kursi, berkali-kali dia istighfar. Sepertinya dia benar-benar marah padaku. Ah, rasanya menyesal aku menceritakan kedekatanku dengan Bang Saris. Seorang ikhwan, seniorku yang saat ini telah bekerja di perusahaan minyak di wilayah Kalimantan. Aku, seorang aktivis dakwah kampus dengan amanah di sana-sini, saat ini sedang menyelesaikan amanah skripsi di kampus memang sudah sejak lama dekat dengan Bang Saris. Bang Saris dulunya adalah pembimbingku ketika OSPEK, orangnya ramah, baik hati dan supel. Ketika setiap orang meminta bantuan padanya, dia selalu ada. Aku tahu Bang Saris baik pada setiap orang, bahkan ketika dia sudah lulus dan bekerja, setiap aku memasukkan proposal pendanaan untuk dakwah, setidaknya dia akan mengirim setengah juta.

Kedekatanku dan Bang Saris sudah seperti adik dan kakak, kadang ketika aku meminjam uang padanya, ia selalu mentransfer dan ujung-ujungnya, uang itu diberikan padaku alias tak perlu dikembalikan. Lalu apanya yang salah? Kenapa Kak Randa begitu emosi?

“Dinda solihah…” Kak Randa menatapku lembut, emosinya yang tadi sudah mulai berkurang. “Begini, apa kau suka padanya?”

Aku kaget mendapatkan pertanyaan ini dari Kak Randa dan dengan tegas kujawab, “TIDAK!”

“Jika suatu saat, entah besok, lusa atau tahun depan dia datang. Bukan sebagai kakak, tapi sebagai seorang ikhwan yang sedang mencari seorang pendamping hidup dan orang yang ia temui adalah kamu. Apa kamu mau menerimanya?”

Aaaah… pertanyaan Kak Randa kian ngacau!! Aku kesal mendapatkan jawaban ini. Jujur saja, perasaanku pada Bang Saris tidak lebih dari seorang adik pada kakaknya.

“Kak…” Aku mencoba menenangkan diriku. “Tak mungkin Bang Saris akan datang untuk melamarku. Dia telah menganggap aku ini sebagai adiknya.”

“Tidak ada yang bisa menghalangi kalian untuk menikah. Kau dan Saris bukan mahrom!” Nada bicaraku mulai meninggi. “Dinda! Siapalah kamu sehingga kamu layak dibantu dan selalu dikirimi uang oleh dia. Kamu siapa? Ibunya? Adik kandungnya? Kakak kandungnya? Atau sepupunya? Neneknya? Bukan! Kamu bukan siapa-siapa. Kamu hanyalah seorang akhwat yang ‘kebetulan’ dekat dengannya ketika di kampus dan akhirnya semakin dekat ketika dia keluar dari kampus. Dan apa maksudnya?!”

Aku tercekat. Sungguh… aku tak berpikir sampai sejauh itu. Kak Rinda benar. Aku bukan siapa-siapa. Aku bahkan tak pernah berbuat apapun untuk Bang Saris. Aku hanya akhwat yang kalau lagi butuh uang suka meminjam dengan Bang Saris karena ku tahu Bang Saris punya uang dan untuk meminjam ke senior-senior akhwatku apalagi Kak Randa adalah hal yang tak mungkin. Aku tahu Kak Randa pun seringkali kesulitan untuk membiayai adiknya.

“Dinda… jika pun ada wanita yang layak menerima uang darinya, dialah Ibu, dialah saudara perempuannya, dialah nenek atau kerabat wanitanya. Bukan adik yang sengaja-sengaja disebut adik angkat, padahal kau sama sekali tak mengenal keluarganya. Bisa jadi ia dalam kesulitan, bisa jadi ibunya jauh lebih butuh dibandingkan kamu, ya bisa jadi.”

“Syam…” Kak Randa memanggilku lembut. “Apa bedanya seorang akhwat yang tertarbiyah, ngaji tiap minggunya, dan tilawah setiap waktunya dengan wanita yang tak mengerti agamanya, lalu mereka sama-sama meminta-minta pada orang yang bukan mahromnya, bahkan bukan suaminya?” Kak Randa mendekatiku, aku dan Kak Randa duduk tak berjarak, dia mengenggam tanganku yang gemetaran sejak mendengar semua ucapannya.

“Astahgfirullah al-adzim, kak….” Aku mulai berkaca-kaca. “Apa yang harus aku lakukan?”
Aku mendengar helaan napas Kak Randa, tangan kanannya yang tadi mengenggam tanganku sekarang berpindah ke bahuku. “Syam… Dindaku yang solihah.” Dia tersenyum manis. “Bertaubatlah dan berserah diri pada-Nya.”

“Jika kau punya uang, kembalikan uang yang selama ini dia berikan cuma-cuma. Jika tidak, sebutkanlah nominalnya, nanti akan kuusahakan untuk menggantinya.”

“Kak Randa…” Panggilku pelan.

“Ya…”

Aku memeluk Kak Randa erat, “Ya Allah, kak… banyaknya dosaku. Aku minta doanya agar Allah mau mengampuni dosaku.”

“Aamiin… Dinda Syam… dari sekarang, kurangilah hubunganmu dengannya. Sibukanlah dirimu di skripsi dan dakwah. Jika kau butuh sesuatu, kau punya banyak saudara akhwat. Mereka siap membantumu. Libatkan Allah… libatkan Allah dalam setiap langkahmu. Lupakan Saris. Lupakanlah dia.”

“Iya, kak” Aku menyeka air mataku.

“Tapi, kalau seandainya dia datang ya mesti siap-siap!” Hahaha Kak Randa tertawa.

“Yaaaaaaa kakakkkkkk… jangan sampai kaaaak.. Aku gak suka sama Bang Saris. Wallahi!” Aku mengangkat tanganku.

“Memang yang menentukan jodoh seseorang kamu? Ahihihi…” Kak Randa kembali terkekeh.

“Sudah… sudah… aku bener-bener taubat kak. Insya Allah aku akan menghubungi Bang Saris kalo aku mau mengembalikan uangnya beliau dan meminta tolong padanya agar tidak menghubungiku lagi.”

“Sip… itu baru Syam adindaku nan solehah.”

Aku dan Kak Randa saling berpelukan. Ah… Kak Randa, andai kau tahu bahwa aku mengharapkan Bang Saris benar-benar datang, tapi bukan untukku, melainkan untukmu.

--

Voe Nahl Belajar dari Khadijah

Rabu, 21 Januari 2015

Jadi Emak? Duh, Rempong Cyiiin..!!

Siapapun kita, apapun latar belakang kita, akan melewati fase menikah kemudian punya anak jika ditakdirkan demikian. Siap tidak siap, masa itu akan datang.

Duh! Jadi emak? Gimana ya rasanya??

Sebut saja Arin. Dia adalah wanita muda yang aktif, pintar, gaul, dan berwawasan luas. Dia sukses dalam karirnya, memiliki banyak teman, dan eksis di media sosial.

Sabtu, 27 Oktober 2012

Do’a Pernikahan Untukmu, Ukhti.


 Spesial pake telor tuk sahabat ABG-ku, Tika Yusniawati dan Suami.

“Bismillah.. Membuat pengakuan sebelumnya, lebih baik bagiku agar dapat melanjutkan kata demi kata ini. Afwan ukhti sayankk... Ana belum sempat menulis surat untukmu, tapi semoga surat di media sosial ini bisa menggantinya.”

Jumat, 24 Februari 2012

Sungguh, Aku Ingin Kau di Sini

Aku kelelahan, bertumpuk beban di bahuku
Sungguh, aku ingin kau di sini
Meneguhkan bahuku, menguatkannya hingga berdiri tegak
Atau... bolehlah kupinjam bahumu
Untuk ku kulaikan kepalaku
Meruntuhkan beban-beban ini
Hingga satu persatu lelah ini hilang menjadi semangat

Jumat, 03 Juni 2011

Dilarang Menikah dengan Ikhwa Sekampus

Siang hari, saat para lelaki menunaikan sholat Jum’at, aku dan ketiga orang rekanku sibuk berkutat dengan tugas masing-masing di galery Kopma. Mbak Umi sibuk onlen nyambi buat tugas kuliahnya, sedangkan Mbak Titi dan Puput sibuk menghitung jumlah pengeluaran dan pemasukkan kopma nyambi sesekali onlen. Melihat teman-temanku pada sibuk dengan leptopnya, aku memulai pembicaraan yang hot akhir-akhir ini.

“Eh, sudah pada tahu belum. Ternyata kita dilarang menikah dengan ikhwan sekampus.” Kataku meyakinkan.

Spontan ketiga sohib Kopmaku melihatku dan sejenak melupakan tugas-tugas yang menumpuk di leptop mereka, “Loh, kenapa? Ya bolehlah, gak ada larangannya dek!” Kata mbak Umi mempertanyakan. Aku mengangguk, kuyakinkan dia dengan bahasa nonverbalku, bahwa apa yang kusampaikan ialah benar.

“Masa sich Voe? Sejak kapan?”  Tanya Puput.

“Gak ada hadistnya loh mbak!” Kata mbak Titi membantahku, jelas dia mengerti tentang dalil munakahat, lulusan pesantren gitu loh!

Aku tersenyum melihat muka mereka yang penuh dengan ketidakpercayaan, “Iya, ini manhaj terbaru yang bilang. HARAM HUKUMnya menikah dengan IKHWAN SEKAMPUS!! Dilarang keras!!”

“Ya, gak bisa gitu dong dek. Gimana kalau jodoh?” Tanya mbak Umi lagi.

“Ya mau gimana lagi, mbak. Inikan hukum manhaj yang terbaru.”

“Manhaj mana sich mbak Voe? Gak ada kok yang melarang.” Mbak Titi kembali berkeras.

Puput kelihatan bingung dan tak percaya. Ini artinya ikhwan dan akhwat yang akan menikah dalam waktu dekat harus dibatalkan, begitu mungkin pikirnya.

“Ya, iyalaaah gak boleh. Kita itu harus menikah dengan satu orang ikhwan. Jangan sekampus, kebanyaaakan kaleee!!! Satu aja mujur dapet! Xixixixi.” Aku tak bisa menahan rasa cengengesanku.

Spontan ketiga wajah itu saling pandang, dan akhirnya kompak dengan koor dan tempo yang sama, “Vooooooooooooooti!!!!! Wkwkwkwk....”

Hehe... Pizzz.. So, kalau mau nikah, sama seorang ikhwan aja, jangan sekampus. HARAM HUKUMnya. Akhwatkan hanya boleh punya satu suami. Gak boleh lebih!

Senin, 16 Mei 2011

Akhwat Terakhir Malam ini


Jiaah, udah kayak apa judul cerita kali ini. Hee...  ini kisah sewaktu kami (LDF IMC) iftor jama’i di musholah tercinta, shelter. Ketika itu keput IMC, kami memanggilnya Mamah Dela memasak gorengan spesial plus ongol-ongol ijo dan nanas. Subhanallah rasanya enak. Kalau kata mamah Dela sih, beliau ingin memanfaatkan sisa-sisa waktunya yang seminggu lagi untuk dakwah sebelum akhirnya terbang ke Kansas, Amerika.

Dela Anjelawati, mahasiswa semester 8, akhwat kebanggaan FISIP dan UNIB. Mahasiswa berprestasi tingkat Universitas dan beberapakali menjuarai lomba debat. Orangnya lembut dan berwibawa, namun tegas dan istiqomah Insya Allah, ya seperti Aisyah.

Selain pintar akademis, solehah, beliau juga pinter masak. Waah, bayangin aja deh, udah soleh, cantik, pinter akademis, dan pinter masak, ikhwan mana coba yang nolak! Hee.. bukannya apa-apa, pas iftor ini, seorang adik tingkatku nyeletuk, “Kalau ana jadi ikhwan, orang pertama yang ana lamar itu Mamah Dela.” Aku tersenyum sambil memandang Mamah Dela yang sedang sibuk beres-beres perlengkapan iftor (adoooh parah! Emaknya beres-beres anaknya Cuma liat doank. Hee)

Trus, sang adik tingkatku melihatku, “Nah, kalau udah gak ada akhwat lagi, baru Mbak Voe yang ana lamar.” Spontan aku melihatnya, dan kami tertawa berbarengan. Wkwkwkwk.. iya bener banget kayaknya. Kalau ingat diri sendiri, ahk, adanya mau cengengesan aja. Kalau kata teman-teman akhwatku, aku adalah akhwat paling aneh yang pernah mereka jumpainya. Ntah peneliannya seperti apa, tapi begitulah kalau kata mereka.

Pulangnya...

Seperti biasa, aku berboncengan dengan Mamah Dela. Aku ceritakan semua apa yang dikatakan adik tingkatku tentang kami berdua. Mamah Dela ketawa saat mendengarnya, dengan bijaksananya beliau berkata, “Wajar Voe, mbak kan lebih tua dari Voe, jadi mbak dulu yang dilamar. Nanti, saat udah di tingkat yang lebih tinggi, bakal dilamar juga dengan ikhwan letingan Voe.”

“Halaaah mbaak. Gak usah koment gitu, Vo juga ngerti kok. Hee siapa juga yang mau ama. Oooupz.. hehee...” Dari pada nyeplos gak bener dan di Aamiinkan malaikat, aku milih memutus pembicaraanku.
Malam ini malam yang indah. Bulan purnama bersinar terang, menyinari malam yang pekat dan meneduhkan kami berdua. Ahk, sebentar lagi Mbakku ini akan pergi. Pergi terbang ke Kansas Amerika. Satu impiannya terwujud. Dan yang pasti, ada satu kalimat yang membuatku senang ketika itu, beliau mencabut niatnya untuk menikah pada usia 27 tahun. Dan memilih untuk menikah muda, beliau menyebutkan tahun target menikahnya.

Selasa, 26 April 2011

Dibalik Kesulitan Ada Kemudahan

Bismillah.

Allah memberiku kejutan. Dia punya banyak cara untuk menyenangkan hati hamba-Nya.

Ini pertama kalinya, ane dapat amanah jadi sie'Kestari dari UKM Kerohanian untuk event Keputrian, Woman Days. Tugasnya buka stand pendaftaran, nrimo uang pendaftaran, pokoke yang tugasnya mencari peserta jugalah.

Nyaris dua minggu ane buka stand pendaftaran d 2 tempat, di Shelter and Galery Kopma. Dan H-1, ente tau gak sih berapa orang yang daftar? Cuma 17 orang!! dan yang lebih kerennya lagi yang baru bayar cuma 8 orang! Gimana perasaan ente tatkala ente yang jadi kestari trus nrima kenyataan peserta cuma 8 orang?! Huaaah!! lu bisa banyangin lah gimana hati gw ketika itu (mewek.com)

Dan hampir setiap hari Keput UKM (merangkap jadi ketupat) menanyakan jumlah peserta. Duuuh, gak tega mau balas, kalau tau kenyataannya.

Sedih sangad. Mana di H-1 gak ada rapat sama sekali! Gak ada juga fixasi. Huaaah!!! Pengen berderai air mata ane ketika itu. Mana ane gak tahu sama sekali perihal sound, konsumsi, dll, apakah udah fix atau belum.

Ampe2 ane SMS ke beberapa akhowat, "Sedih e sama UKM"

Namun, ada yang membalas, iiih, mb yang kucintai karena Allah, "Insya Allah pesertanya banyak, dek. YAKINLAH." Luar biasa, SMS ini tanpa ia sadari mampu membawa energi baru dalam hatiku (gaklebay ye).

Memang sich, banyak nomor baru masuk ke HP ku yang elegant dengan tempelannya. Menanyakan perihal perlombaan dan Semnas. Tapi itu tak cukup memberi kepastian mereka ikut apa gak.

Yah, sekarang satu2 nya harapan tempat bergantung hanya Allah Ta'ala. Ingat ta'limat ketika itu, sholat tahajud dan berharap Allah memerintahkan kepada pasukan malaikatnya untuk meramaikan majelis ilmu itu.

Sewaktu Hari H. Pukul 07.00 berangkat dari rumah, dan ngeliat Keput UKM duduk di depan Gedung C. Hiks, gak tega ngeliatnya. Mana beliau yang beli perlengkapan, nyari dana, dll, dan diriku mengecewakannya. Oh God, what the pity i am!

Adek2 ane dari Rozul (tim nasyid) dah pada ngumpul di depan Gedung C. dan yang bikin suprize ternyata audionya lagi dipasang sama pasukan ikhwan!! Huwaah. Gak nyangka ikhwaners juga peduli dengan acara akhwat. Jadi ingat pas Forum Annisa angkatan ane dulu '08, para ikhwan nya datang pas jam 6-an buat masang LCD, Microfon, dll. Lebih duluan dibanding para akhwatnya. Ya, inilah ukhuwah!

Yang bkin sh0ck dan bersyukur adalah Allah benar-benar mendatangkan pasukan malaikatnya untuk datang ke Majelis Ilmu. Allah membuka hati para wanita Bengkulu untuk datang ke acara kami ketika itu. Dan cukup bikin kestari kelimpungan dengan jumlah peserta lebih dari 160 orang. Dan alhamdulillah, kursi yang disediakan penuh dengan peserta (terharu.com).

Alhamdulillah, ada dari poltekes, stain, UMB. Huaaaah!! pengen tereak rasanya!!! kesedihan ane ketika itu memang sangat tidak beralasan. Bukankah ane punya Allah tempat mengadu dan mengemis? Ahk, Allah lah yang membolak-balikkan hati manusia, dan Janji Allah itu PASTI.

So, akhir kata, ane mau ngucapin terima kasih yang sebesar-besarnya buat mbak2ku yang telah berproses bersamaku untuk menikmati betapa indahnya ukhuwah kita. Menikmati betapa di balik kesulitan itu ada kemudahan. Dan Voe juga mau ngucapin maaf jika tidak bekerja secara profesional. Tapi, setidaknya kita sudah berusaha. Dan KITA BISA!!!

Yeaaah, AKU BISA!!! AKU PASTI BISA!! KU KAN TERUS BERUSAHA!!
*nyanyi e.

Senin, 27 Desember 2010

AKU CEMBURU DAN PATAH HATI, salahkah?



Cemburunya seorang istri/perempuan adalah tabiat wanita.
Cemburunya laki-laki/suami adalah syar’i.

SMS yang kuterima ini mengawali hariku pagi ini.
Ku forward SMS yang sama dengan salah satu saudariku, yang kucintai karena Allah.
Tak lama SMS ku bersahut.

Kalau cemburu pada saudarinya?

Ya Robb. Aku menangis kembali (mewek.com). Kuperiksa hatiku. Ada luka di sana, ada cemburu, bahkan patah hati juga meradang. Astaghfirullah. Aku sadar, Aku CEMBURU. Aku perlu menata hatiku.
Ku balas,..

Hiks.. itu menyakitkan bagiku.

Huaaah… betapa inginnya kuteriakkan penatnya hatiku pagi ini. USai mengadu dengan Allah malam tadi, cukuplah bagiku menyimpannya dan kuadukan kembali di pagi hari menjelang dzuhur nanti.

Aku memang seringkali disebut “cewek” gak normal sama saudari, sahabat, bahkan kakak-kakakku karena susah atau mungkin belum pernah suka dengan lawan jenis. Walau ke”tidaknormalan” ini tergolong aneh, tapi menikmatinya sungguh indah. Hehe.. namun, beda dengan halnya dengan akhwat atau perempuan, aku cepat sekali menyayangi mereka. Lama tak bertemu, cepat sekali rindu rasanya.

Ini bukan kali pertamanya aku merasa cemburu bahkan patah hati. Beberapa saat yang lalu, aku bersama saudariku merasakan rasa yang sama terhadap seorang ukhti. Tatkala kami tahu apa yang menyebabkannya mundur dari dakwah. Runtuh sudah air mata ni. Menyakitkan. Aku cemburu tatkala ikhwan itu menggantikan posisi kami. Aku cemburu tatkala ikhwan itu lebih mempesonanya. Yang lebih menyakitkan, dia rela menggantikan posisi Allah dan dakwah di hatimu dengan ikhwan itu.

Kali ini, terulang kembali.

Inikah salahku, karena tidak memberikan hakmu dari ku? Maafkan aku jika ada dari dirimu yang terabaikan. Sungguh, aku mencintaimu karena Allah, dan aku cemburu.

Cemburu, saat aku tahu kau sering jalan berdua dengannya. Ya, HANYA BERDUA. Oh, tidak, tentu saja ada yang ketiga, yaitu, SETAN!! Ya, selama ini kau tidak berdua, tetapi bertiga bersama setan. hiks.. aku cemburu, ukh…

Tak lama setelah aku tahu kau sering jalan ber”tiga”, aku tidak hanya cemburu, bahkan PATAH HATI saat kulihat kau relakan badanmu disentuhnya. Ya Robb, betapa aku menyayangkan dirimu yang rela tubuh berbalut jilbab itu disentuh dengan laki-laki yang tidak halal bagimu.

Tak takutkah kau menjadi “daun” yang lebat mengayomi dakwah, lantas kemudian “layu” gugur berserakan karena waktu.

Tak takutkah kau menjadi “buah” yang manis dan ranum, lantas “busuk” disentuh ulat.

Ya ukhti…
Aku tahu kau pasti tahu kalau Allah itu Pencemburu.
Janganlah kau sisikan Allah dihatimu dengan laki-laki itu.

Karena…
Karena kau belum merasakan sakit saat laki-laki itu meninggalkanmu.
Karena kau belum merasakan hancur saat dia pergi begitu saja.
Kenapa kau rela menggantikan Allah yang jelas-jelas tidak akan menyakiti dan menghancurkan hatimu dengan laki-laki, yang tentu saja tidak sayang denganmu.

Jika dia sayang denganmu, ku yakin dia
TAK KAN PERNAH MENGAJAKMU BERDUA DENGANNYA.
TAK KAN PERNAH MAU MENYENTUHMU SEBELUM MENJADI ISTRINYA.
TAK KAN PERNAH MENGAJAKMU BERMAKSIAT DENGANNYA.

Hemmmmmmph…
Ber-SABAR-lah.
Allah akan menjawabnya di “SAAT YANG TEPAT”
Karena dia “CERMIN” dari diri kita
Mari sama-sama kita “MEMPERBAIKI DIRI”
Karena semua
“INDAH PADA WAKTUNYA.”



By: *Voe*
“Be Khadijah-nya Muhammad”
Kupersembahkan pagi ini untuk senyum kepedihan,
Tak kubiarkan ia tetap menggerogoti hatiku.
Akan kutata hati ini kembali.
Karena sejatinya, kita butuh dakwah!


Jumat, 08 Oktober 2010

Surat untukmu, Nak; “Goresan Hati untuk yang Ku Kenal Lewat Hati”

Surat untukmu, Nak; “Goresan Hati untuk yang Ku Kenal Lewat Hati”

good girl
Sepenggal surat ini kutulis melalui hati yang menggerakkan jemari, spesialuntukmu, Nak. Dari calon Ibumu.
Hari ini, lama sebelum Ibu mengenalmu, ibu menulis surat untukmu, Nak. Ada harapan,cinta, dan luapan sayang yang Ibu tulis jauh sebelum ibu merasakan kehadiranmudalam dekapan kasih Ibu.

Ibu mengenalmu, bukan lewat fisik, tapi lewat hati. Sekarang, Ibu memang belumbisa melihatmu dengan mata indrawi Ibu. Tapi, ibu bisa melihat dirimu di dalamhati Ibu. Melihatmu beranjak besar, juga melihatmu merapikan kerudung kecilyang tampak miring di mukamu. Mengganti celana bermain dengan rok yang Ibujahit untuk hadiah puasa pertamamu. Dan hal terindah yang ibu lihat adalah saat kau bisa membantuorang lain dengan senang hati. Sungguh, kamu meneduhkan pandangan Ibu. Ibumelihatmu bersemi dengan pakaian terindahmu, taqwa.

Ibu mengenalmu, bukan lewat suara merdumu, tapi lewat hati. Hatiku mendengarkantangisan pertamamu saat terlahir ke dunia yang pecahkan keheningan malammencekam, Ibu akan menangis haru saat itu. Ibu juga mendengar ayahmu,melantunkan adzan ke telinga kananmu dan iqomat di telinga kirimu. Kemudian,saat kau mulai belajar bicara, Ibu mendengar panggilan “Ibu” keluar dari mulutmungilmu. Hati Ibu juga bisa mendengar lantunan hapalan Qur’anmu yangterbata-bata saat kau setorkan pada Ibu di usia menginjak dua tahun.

Ibu mengenalmu, lewat hati, Nak. Terasa begitu indah membayangkan bisabersamamu. Bersama seorang anak dambaan hati. Ibu sangat bersyukur, Allahmenitipkanmu pada Ibu dan Ayahmu. Tentu saja, Ibu akan menjaga amanah inisebaik mungkin, mengenalkanmu pada Sang Pencipta, memberikan cinta dan kasihyang tulus, serta mendidikmu agar menjadi anak solehah. Generasi harapanbangsa, bahkan Ibu sangat ingin engkau nantinya menjadi Ibunda para Ulama, yangmemiliki anak-anak soleh dan solehah.

Duhai anakku yang kukenal lewat hati, amanah dari Sang Pemilik Hati yangmemiliki 99 nama yang indah, Asmaul Husna, Ibu dan Ayah akan memberi nama yangindah dan bagus untukmu. Nama yang berarti do’a dan harapan Ibu dan Ayah. Ibutak mau durhaka kepadamu, dengan memberi nama yang asal dan berarti buruk. Ibutak ingin nantinya saat di hari pertanggungjawaban kau berkata kepada Allah,“Sebelum aku durhaka pada Ibu dan Ayahku, mereka sudah mendurhakaiku terlebihdahulu, dengan memberiku nama yang buruk.” Sungguh, Ibu tak ingin ini terjadi,Ibu ingin berkumpul bersama ayah dan anak-anak Ibu di surga, bertetangga denganRasulullah, Khadijah, Sahabat dan Anbiyah.

Duhai anakku yang Ibu kenal lewat hati. Ibu belum pernah bertemu langsungdengan para Sahabiyah. Tapi, Ibu sering membaca tentang kisah mereka, yangakhirnya membuat Ibu rindu ingin jumpa. Masih adakah orang seperti mereka dizaman sekarang? Zaman yang orang jahat dan baik sekalipun bisa mendapat fitnah?

Anakku, harapan Ibu tak kan pupus. Ibu ingin kau belajar dari wanita-wanitaseperti mereka. Ibu ingin kau bisa sesuci Maryam, itulah kenapa ibu telahmengajarimu untuk menutup aurat sejak kecil, agar tak ada laki-laki yang bisamenyentuhmu seenaknya. Ibu ingin kau sekuat Asiyah, istri Fir’aun yang dengantegas mengumandangkan agama Tauhid, karena ibu ingin engkau menjadi anak yangkuat saat ada badai fitnah datang menghempas. Ibu juga ingin kau sepertiKhadijah yang dewasa, sabar dan setia. Pengusaha baik hati dan sepenuhnyaikhlas terhadap suaminya. Dan ibu juga ingin kau setegar dan sesolehah Fatimahyang selalu beribadah pada Allah, mencintai Rasulullah dan menjadi ibu darianak-anak soleh seperti Hasan dan Husein.

 Menjadi bunda dari Ulama adalah impian Ibu, tetapi, menjadi Ibu dari seoranganak yang merupakan bundanya para Ulama adalah hal istimewa yang ibu rasakan.Walau sekarang Ibu hanyalah wanita biasa, tapi ibu ingin kau menjadi wanitayang istimewa, yang menyeru manusia pada kebajikan dan mencegah padakemungkaran.

Duhai anakku, tak ada yang perlu kau takuti di dunia ini, kecuali Allah. KarenaAllah akan menjagamu, saat kau lepas dari penjagaan ibu. Kau tak perlu merasasedih jika suatu saat kau dikucilkan teman sepermainanmu karena pakaiantaqwamu, tenanglah anakku, ada Allah yang akan menentramkan hatimu. Namun,ingatlah anakku, Allah juga akan menghukummu jika kamu lalai pada-Nya. Olehkarena itu, letakkan akhirat di hatimu, agar akhirat bisa mengatur hidupmu danletakkan dunia di tanganmu, agar kau bisa mengaturnya dengan sesuka hatimu.

Duhai anakku, Ibu ingin menjadi orang pertama yang mendengar ceritamu dan keluhkesahmu. Nak, Ibu tidak ingin menjadi seorang Ibu yang hanya kau kenal lewatfoto dan namanya saja. Ibu tak ingin menjadi Ibu yang tak kau jumpai saat kaubangun pagi, karena Ibu sudah pergi bekerja, dan Ibu yang tak kau jumpai saatmalam hari, karena saat ibu pulang kerja kau sudah tertidur pulas. Tidak! Ibuingin menjadi ibu sekaligus sahabat yang baik untukmu. Yang bisa kau temuisesuka hatimu, yang bisa kau ajak berbincang kapanpun kau mau.

Wahai calon bunda solehah, Ibu ingin menghabiskanwaktu untuk ibadah kepada Allah. Salah satunya adalah mendidikmu menjadi anakyang solehah. Ibu ingin engkau belajar memasak bersama ibu, mengurus pekerjaanrumah bersama ibu, menemukan kecenderungan prestasi bersama Ibu. Hingga nantiengkau akan menemukan kecenderungan akan prestasi dirimu, tentu saja ibu akanmendukungmu sepenuh hati Ibu, selagi apa yang kau lakukan tak bertentangandengan nilai agama kita.

Anakku, akhwat kecil yang kusayangi karena Allah.Tumbuhlah dalam cahaya Islam dengan keimanan. Tumbuhlah menjadi muslimahtangguh nan suci, dambaan Islam dan bangsa. Belajarlah menjadi muslimah yangmencintai Allah, karena dunia akan mencintai orang yang mencintai Allah.

Duhai, bidadari kecilku, tahukah kau bahwa di surga sana ada bidadari bermatajeli, perawan dan tak pernah disentuh siapapun? Ternyata mereka cemburu denganmuslimah bumi yang membasahi tubuh mereka dengan air wudhu. Dan dengan airwudhu engkau akan tampak cantik. Walau mata fisik tak melihatmu cantik, tapiyakinlah mata batin dan hati akan melihatmu jauh lebih cantik.

Wahai lebah kecilku, yang kuharap bisa bermanfaat untuk banyak orang, jadilahseperti lebah yang berasal dari hal yang baik dan menghasilkan hal yang baikpula. Dimana hasil yang baik ini sangat bermanfaat untuk orang yangmengunakannya.

Anakku, jika kau sudah baligh nanti dan Ibu bersikap keras padamu, ketahuilahbahwa Ibu sangat menyayangimu. Maafkan Ibu jika nanti Ibu tak mengizinkamukeluar malam tanpa didampingi ayahmu, Nak. Anakku, aku tak ingin kau menjadimuslimah lempem karena cinta nafsu belaka. Ibu ingin engkau menjadi muslimahtangguh, mujahidah yang istiqomah pada ajaran Allah. Walau terkesan berlebihan,tapi ibu sangat ingin melindungi dan menjagamu, maafkan ibu jika nanti ibu jugamembatasi pergaulanmu dengan lawan jenis yang bukan mahrammu. Sungguh inisemata karena ibu sangat menyayangimu. Ibu harus menjagamu, hingga nantiKsatria Langit yang di utus Allah datang menawarmu.

Nak, sebagai seorang Ibu, maka sepantasnyalah Ibu ikut campur dalam pemilihanuntuk pendamping hidupmu kelak. Seorang yang mencintai Allah dengan ikhlas,yang baik tutur dan perilakunya. Sebab, gen yang baik akan mempengaruhiperkembangan seorang anak, menjadi durhakakah atau solehkah. Sehingga, saatnanti engkau pergi bersama Ksatriamu, ibu ikhlas melepas dirimu untuk jihadmenjadi seorang Ibu.

Duhai permata hati yang kukenal lewat hati, inilah surat dari calon ibumu, Nak.Surat yang dibuat sebagai cerminan untuk perbaikan diri Ibu. Ibu harap, saatnanti ibu melihat wajahmu, mendengar suaramu, dan merasakan dekapanmu lewatindrawi fisik Ibu, ketahuilah, Ibu telah mengenalmu jauh sebelum engkau ada. Dan ibu mengenalmu lewat hati, Nak.

________THe End_______

Rabu, 04 Agustus 2010

Antara Ana, Anti, dan Komitmen Nahnu

Antara aku, kamu dan komitmen Kita....

Lantai dua rumahmu menghantarkan diriku untuk menemuimu. Sebuah cerita besar siap diletupkan dari bibirmu. Pagi ini di ruang petak sambil mendengar sebuah musik kontemplasi, di mulailah sebuah keputusan dan pengharapan.

Keputusan besar, lebih besar dari umur kami.
Keputusan besar, lebih besar dari badan kami.

Bahkan mimpiku tadi malam menandakan kegelisahanku.
Bahkan ketidakyakinanku menandakan inilah yang akan terjadi.

Walau istikharah telah bergantu hajad.
Hajad berganti pengharapan.

Satu yang pasti, kau bidadari hebat dengan hati yang terjaga.

Di lantai dua rumahmu. Kita saling bergenggam.. Mematikan sebuah keputusan dan menuju sebuah harapan.

"Aku ingin punya banyak anak. Anak yang mendatangkan ridho Alloh. Multi Level Marketing terindah ini, haruslah aku menjadi salah satu dari pemainnya. karena, membina satu wanita sama dengan membina satu bangsa."

"Aku merindukan sosok putih abu-abu dan keindahan ukhuwahnya. Aku merindukan sosok jilbab putih yang penuh gairah melangkahkan kakinya menaklukan debu melintang."

"Sebuah komitmen pasti!! Terkadang ada banyak hal yang harus dikorbankan, termasuk semua impian-impian itu. Ya, mereka lebih butuh kita. Dan biarlah Alloh yang mengganti kelezatan semua impian itu."

"Cemburu aku tatkala tahu uang kas LDK mereka, 50 juta. Angka yang spektakuler yang dimiliki oleh para mahasiswa dan itu di dapat dari hasil yang mandiri. Dan semua ini adalah nominal dari sebuah proses. Proses. Segala sesuatu diawali dengan proses. Mereka sekedar langsung sukses, mereka sukses karena proses. 70% dari muslimah, mengenakan Jilbab. Ini suatu angka yang luar biasa. Menangis haru aku dibuatnya. Ingatlah semua kejadian di FISIp yang aku rasa wanita berjilbabnya saja tak lebih dari 5% saja. Inilah proses. Dan aku harus berada di proses ini."

"Biar nanti Alloh yang membalasnya. Aku tentu mengharap imbalan dari semua ini. Aku mengharap ridho dari Allah."

Di ruang itu... Satu komitmen lahir.. "WELCOME to NEW DAKWAH"

Insya Alloh... Kan kufokuskan diri untuk memperbaiki diri... Kan kufokuskan diri untuk bersama ukhtyna tercinta...

Good Bye,,, T.T

Senin, 07 Juni 2010

Sudah Tabrakan, Kena Tampar Pula

Udah jatuh tertimpa tangga pula. Mungkin begitulah kata2 yang pas buat akhwaters IMC, sudah tabrakan dapat tamparan pula.. xixix :D kejam mamat bahasanya si Voe.

Mana enggak?? Ane mau bagi story ma ukhty, sekalian ngingetin para hamad tercinta akan bubar kita pada Senin sore ini. dengan hujan dan ukhuwah kita pulang dengan hangat... hemph... Mulai...

Kalau ente kenal dengan akhowat IMC (FISIP poenya), eeeitzzz, tunggu bentar kalau ente merasa IKHWAN, berhenti membaca ini, dan pergilah jauh2 dari catatan ane.. karena ini bukan konsumsi buat klian... NGERTI?!!!

Hamad,,, inget gak klu Qt mayoritas dari hamad gak cuma para hamad tapi juga buat para akhwaters IMC kerend, punya akhowat yang khas punya.

Salah satu kebiasaan, yg mungkin udah jadi cap, "WAH AKHWAT FISIP BANGET!!!" adalah perilaku kita yang sering tabrakan.. eitzzz,, tabrakan warna baju cin!!! baju, rok, ame jilbab yg gak sepadan warnanya..

Tapi, sore tadi dapat tamparan yang soleh banget dari seorang ikhwan berlabel ustad yang ngisi tausiyah kader IMC sekalian iftor bareng,. kata Beliau, "Akhwat itu juga harus memperhatikan penampilannya, jangan pula pake pakaian yang warna-warni, jadi seperti pelangi. Pakailah pakaian yang sepadan warnanya," gitu sih kurang lebih...

Ghok!!!!

Spontan beberapa hamad plus yg lain, cekikikan menertawakan diri mereka sendiri yang notabene nya hobi tabrakan. Yeah, hari ini udah tabrakan kena tampar pula.. hihihi... note yg garing!!!