Hidup adalah jual beli, maka jadikan Allah sebagai mitra bisnis, kemudian jadilah entrepreneur sejati. Hidup hanya sekali dan mesti manfaat!! Selamat datang di Blognya si Voe. ^_^ Salam ukhuwah.
Tampilkan postingan dengan label kopma. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kopma. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 29 Juni 2013

Ucapan Terima Kasih (SKRIPSI)


·         Duhai Allah, nikmat mana lagi yang kudustakan? Syukur Alhamdulillah, meminta kepada-Mu adalah tepat dan tiada kesia-siaan. Terima kasih telah memberi nikmat Iman, Islam, kesempatan dan kesehatan. Ketika ku meminta Desember, Kau mengabulkan di Agustus. Kau hadiahkan Ilmu Komunikasi di saat Millad-ku yang ke-18 dan Kau hadiahkan kelulusanku menjadi Sarjana Ilmu Komunikasi di saat Millad-ku yang ke-22. Terima kasih telah begitu manis pada-Ku. Terima kasih telah mengajarkan padaku atas makna sumpahmu di Al-Qur’an.. DEMI WAKTU!!

·         Rasulullah SAW. Terima kasih telah memberi kami ruang untuk bertarbiyah dan mengenal Tuhan kami. Sungguh, aku ingin bertetangga denganmu ya Rosul. Aku Rindu.

Selasa, 01 Mei 2012

Young Entrepreneurship : AYO JADI PENGUSAHA


Young Entrepreneurship : AYO JADI PENGUSAHA
Masih dibutuhkan 1.400.000 pemuda dari kalangan siswa/mahasiswa yang mau dan siap jadi PENGUSAHA. Maka jadilah SATU diantara 1.400.000 pemuda itu.

Dalam rangka menyambut Gebyar Hari Ulang Tahun (HUT) Koperasi Mahasiswa Universitas Bengkulu (Kopma Unib) ke 28th yang bertema 'Young Entrepreneurship: Ayo Jadi Pengusaha". Keluarga Besar Kopma Unib mengundang segenap mahasiswa Universitas Bengkulu untuk mengikuti rangkaian kegiatan HUT Kopma UNIB:

Minggu, 29 April 2012


1. Acara YE ini pertama kali di Bengkulu dan ini tempat Anda untuk belajar dan bertemu dengan teman-teman se-Ide.

2. Anda bisa berkenalan langsung dengan Muhammad Soleh (Owner Prioritas dan Konsultan Kopma) dan Nanang Mubarok (Owner Pesantren-preneurship dan Motivator Entrepreneurship)

3. Harga tiket sangat murah dan terjangkau dengan kantong mahasiswa, ya ibarat kata 1 pecel lele plus es teh deh. Cuma Rp 15.000,-

Selasa, 17 Mei 2011

Bekerja untuk Bertahan Hidup atau Menikmati Hidup?


Saya mendapat sepotong SMS sore itu,
“Kerja bagiku untuk bertahan hidup, bukan untuk menikmati hidup :(

SMS ini tak kubalas. Kubiarkan ia tetap bersarang di HP tua saya.

Sore esoknya, saya menerima telepon dari seseorang, seorang calon mahasiswa berprestasi tingkat Universitas. Beliau menanyakan pendapat tentang presentasi yang bagus. (kayaknya ni orang salah alamat, nanya kok sama saya! Hee..)

Karena merima telepon itu saya teringat kisahnya, ia pernah berkisah sewaktu di Galery Kopma tentang kuliah dan kerjanya. Beliau putra jawa kelahiran Sumatera. Namanya Misnadi, dulunya Ketum MGC dan sekarang menjadi mahasiswa berprestasi tingkat Fsayaltas. Jangan salah fahim dulu, kami di KOPMA memang begitu, saling mengenal satu sama lain. Kami seperti keluarga, namun tetap menjaga hijab dan pergaulan kami.

Beliau berasal dari keluarga yang sederhana. Dan keluarganya tidak memberikan uang bulanan kepadanya. Karena jurusan Peternakan, jadi beliau tinggal di Kandang dan ini sangat menghemat pengeluarannya, soalnya gak perlu bayar kosan.

Trus, untuk biaya hidup sehari-hari, beliau ngarit. Ya, ngarit setiap hari dan setiap pukul empat sore (ba’da azar). Kemudian hasil aritan itu (rumput) dibawa ke kandang untuk makan sapi-sapinya. Perbulannya ia mendapat Rp 150.000. Apakah itu cukup untuknya? Ini yang membuatku salut dengan praktek sedekahnya.

Dia salah satu orang yang kunanti untuk datang ke galery. Biasanya saya menghabiskan beberapa snack dan beliau muncul untuk membayarnya. Heee. Bukan apa-apa, soalnya beliau menawarkan sih. Hee. Banyak uang kali ya!!

Untuk uang kuliah, beliau mendapatkan beasiswa dari kampus. Sehingga, uang tersebut dapat menutupi uang kuliah dan tuntutan iuran kuliah. Dan, dia tidak pernah kelihatan mengeluh. Pernah suatu hari saya bertemu dengannya saat dia lagi ngarit. Dia tetap bersemangat dengan pekerjaannya.

Walau gak pernah mengeluh, tapi sesekali sering nyeletuk, “Saya ini gak pantes, kulit saya hitam, dan saya ini tukang arit. Baju saya kalau lagi ngarit itu jelek kayak pengemis atau pemulung.”

Tapi, saya yakin, dirinya penuh dengan gelora semangat dan syukur. Dia memiliki inner beauty yang luar biasa, walau dia sering nimpalin, “bukan pancaran inner beauty, tapi ketutupan sama kegelapan kulit.” wkwkwkw

Balik lagi ke SMS yang diawal. Saya berdiskusi dengan orang yang menge-SMS keesokan harinya dihari yang sama setelah selesai berdiskusi dengan tukang arit tadi.

Dia seorang karyawan swasta dengan gaji yang lumayan. Namun, dalam pikirannya, pekerjaan itu merupakan suatu yang membuatnya tertekan. Bukan bermaksud untuk membandingkan. Temanku yang satu ini, memang bercita menjadi pengusaha, karena dengan menjadi pengusaha dia bisa membantu keluarga dan orang lain.

Namun, obsesinya untuk menjadi pengusaha membuatnya mudah mengeluh dan kuharap ia tidak melupakan syukur. Dan pekerjaan itu tak lebih dari sebuah alat untuk bertahan hidup.

Nah, bagimu, pekerjaanmu itu untuk apa? Bertahan hidup atau Menikmati Hidup?

180511

Senin, 16 Mei 2011

Pertaruhkan Harga Diri demi Kue dan Nasi Kotak Murah


Ini adalah sejarah baru untukku. Aku mengikuti brifing kelulusan PKM untuk bertama kalinya dengan dua orang rekananku, Mbak Siska dan Kak Maulana. Lulus PKM adalah hal yang baru bagiku juga bagi rekananku, karena ini adalah pengalaman pertama kali ikut PKM.

Saya tak kan berpanjang lebar menceritakan kisah PKM kami, aku akan menceritakan pengalamanku saat brifing. Saat dimana ketidakpercayaan tingkat tinggi terjadi. Kami harus membayar makan siang dan kue kami sendiri. Rektorat tidak mau menanggung uang makan kami, itu artinya kami harus menyisihkan uang PKM yang belum kami terima.

Tawaran Rektorat adalah harga untuk kue kotak Rp 5000, sedangkan nasi bungkus Rp 15.000. Jujur saja, saya cukup dongkol tatkala harga nasi itu sebesar Rp 15.000. Padahal untuk nasi bungkus harga nasi Rp 7.000 saja. Waah, setengah harga donk!! Gak mau membayar uang lebih banyak, teman-teman banyak yang protes. Termasuk saya. Akhirnya saya angkat bicara, “Gini aja Bu, gimana kalau harga nasi dan kuenya dipotong aja. Kue kan ada yang harganya Rp 5.000, trus nasi bungkus Rp 15.000 itu kemahalan, nasi kotak ada loh bu yang Rp 10.000.”

Sepontan Bu Kemahasiswaanku membalas, “Ya sudah kalau gitu kamu yang ngurus!” Hah?! Kaget menerima tantangan tersebut akhirnya saya membalas.

“Ya, Bu, Siap Insya Allah.”

“Oke, kalau ada masalah di kue dan lauk kalian bisa protes ke Voti!” 

“Siap Bu!” Kataku ketika itu mantap. Walau dalam hati, nasi kotak Rp 10.000, ada gak ya??

Untung ada mbak Siska yang selalu menemaniku mencara lapak murah. Dan sejauh kami mengarungi rumah makan yang ada semua harga Rp 13.000. Bayangin aja coba?!

Akhirnya, malamnya saya lobi-lobi dengan teman satu SMA dulu, dan dia siap kalau melayani harga Rp 9.000, tapi gak mau diantar. Jiaah, sama aja dung, saya mesti jemput dan itu membuang tenaga, mana hari H mesti fokus ke PKM.

Besoknya, teman satu tim, Kak Maulana SMS kalau ada nasi kotak yang harganya Rp 10.000. Ya Alhamdulillah, ternyata banyak juga yang peduli buat membantu.

Hari sehari lagi tiba. Aku mencoba melobi Bude, langganannya kopma. Dan alhamdulillah Bude bersedia memberi harga Rp 10.000 dengan kualitas OK. Walau harus ditalangi dengan uang pribadi, alhamdulillah bisa terselesaikan.

Hari H tiba saya harap-harap cemas. Saat membuka nasi kotak, luar biasa senang!! NASI KOTAK BUDE MEMUASKAN DAN ISINYA UUUEEENAAAK!!!! Waah makasih Bude!!!
Alhamdulillah, Allah tidak pernah mengecewakanku. Thank you Allah.