Hidup adalah jual beli, maka jadikan Allah sebagai mitra bisnis, kemudian jadilah entrepreneur sejati. Hidup hanya sekali dan mesti manfaat!! Selamat datang di Blognya si Voe. ^_^ Salam ukhuwah.
Tampilkan postingan dengan label cerita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerita. Tampilkan semua postingan

Senin, 10 Agustus 2015

Nasihat Akhwat untuk Akhwat

“Ukhti, jangan lakukan itu lagi!” Kak Randa menatapku tajam. Aku tak pernah melihat Kak Randa, akhwat yang lembut kata-katanya, setegas ini padaku. Aku menunduk. Kutarik napasku dan kucoba untuk merangkai kata demi kata, yang sebenarnya hanya sebuah alasan berbentuk pembenaran.

“Kak Randa…” Kataku pelan. “Aku sudah menganggap Bang Saris sebagai abangku sendiri. Dan aku yakin Bang Saris juga menganggapku sebagai adiknya. Selama ini tidak ada yang aneh dari perangainya terhadapku.”

Kak Randa menyandarkan punggungnya ke kursi, berkali-kali dia istighfar. Sepertinya dia benar-benar marah padaku. Ah, rasanya menyesal aku menceritakan kedekatanku dengan Bang Saris. Seorang ikhwan, seniorku yang saat ini telah bekerja di perusahaan minyak di wilayah Kalimantan. Aku, seorang aktivis dakwah kampus dengan amanah di sana-sini, saat ini sedang menyelesaikan amanah skripsi di kampus memang sudah sejak lama dekat dengan Bang Saris. Bang Saris dulunya adalah pembimbingku ketika OSPEK, orangnya ramah, baik hati dan supel. Ketika setiap orang meminta bantuan padanya, dia selalu ada. Aku tahu Bang Saris baik pada setiap orang, bahkan ketika dia sudah lulus dan bekerja, setiap aku memasukkan proposal pendanaan untuk dakwah, setidaknya dia akan mengirim setengah juta.

Kedekatanku dan Bang Saris sudah seperti adik dan kakak, kadang ketika aku meminjam uang padanya, ia selalu mentransfer dan ujung-ujungnya, uang itu diberikan padaku alias tak perlu dikembalikan. Lalu apanya yang salah? Kenapa Kak Randa begitu emosi?

“Dinda solihah…” Kak Randa menatapku lembut, emosinya yang tadi sudah mulai berkurang. “Begini, apa kau suka padanya?”

Aku kaget mendapatkan pertanyaan ini dari Kak Randa dan dengan tegas kujawab, “TIDAK!”

“Jika suatu saat, entah besok, lusa atau tahun depan dia datang. Bukan sebagai kakak, tapi sebagai seorang ikhwan yang sedang mencari seorang pendamping hidup dan orang yang ia temui adalah kamu. Apa kamu mau menerimanya?”

Aaaah… pertanyaan Kak Randa kian ngacau!! Aku kesal mendapatkan jawaban ini. Jujur saja, perasaanku pada Bang Saris tidak lebih dari seorang adik pada kakaknya.

“Kak…” Aku mencoba menenangkan diriku. “Tak mungkin Bang Saris akan datang untuk melamarku. Dia telah menganggap aku ini sebagai adiknya.”

“Tidak ada yang bisa menghalangi kalian untuk menikah. Kau dan Saris bukan mahrom!” Nada bicaraku mulai meninggi. “Dinda! Siapalah kamu sehingga kamu layak dibantu dan selalu dikirimi uang oleh dia. Kamu siapa? Ibunya? Adik kandungnya? Kakak kandungnya? Atau sepupunya? Neneknya? Bukan! Kamu bukan siapa-siapa. Kamu hanyalah seorang akhwat yang ‘kebetulan’ dekat dengannya ketika di kampus dan akhirnya semakin dekat ketika dia keluar dari kampus. Dan apa maksudnya?!”

Aku tercekat. Sungguh… aku tak berpikir sampai sejauh itu. Kak Rinda benar. Aku bukan siapa-siapa. Aku bahkan tak pernah berbuat apapun untuk Bang Saris. Aku hanya akhwat yang kalau lagi butuh uang suka meminjam dengan Bang Saris karena ku tahu Bang Saris punya uang dan untuk meminjam ke senior-senior akhwatku apalagi Kak Randa adalah hal yang tak mungkin. Aku tahu Kak Randa pun seringkali kesulitan untuk membiayai adiknya.

“Dinda… jika pun ada wanita yang layak menerima uang darinya, dialah Ibu, dialah saudara perempuannya, dialah nenek atau kerabat wanitanya. Bukan adik yang sengaja-sengaja disebut adik angkat, padahal kau sama sekali tak mengenal keluarganya. Bisa jadi ia dalam kesulitan, bisa jadi ibunya jauh lebih butuh dibandingkan kamu, ya bisa jadi.”

“Syam…” Kak Randa memanggilku lembut. “Apa bedanya seorang akhwat yang tertarbiyah, ngaji tiap minggunya, dan tilawah setiap waktunya dengan wanita yang tak mengerti agamanya, lalu mereka sama-sama meminta-minta pada orang yang bukan mahromnya, bahkan bukan suaminya?” Kak Randa mendekatiku, aku dan Kak Randa duduk tak berjarak, dia mengenggam tanganku yang gemetaran sejak mendengar semua ucapannya.

“Astahgfirullah al-adzim, kak….” Aku mulai berkaca-kaca. “Apa yang harus aku lakukan?”
Aku mendengar helaan napas Kak Randa, tangan kanannya yang tadi mengenggam tanganku sekarang berpindah ke bahuku. “Syam… Dindaku yang solihah.” Dia tersenyum manis. “Bertaubatlah dan berserah diri pada-Nya.”

“Jika kau punya uang, kembalikan uang yang selama ini dia berikan cuma-cuma. Jika tidak, sebutkanlah nominalnya, nanti akan kuusahakan untuk menggantinya.”

“Kak Randa…” Panggilku pelan.

“Ya…”

Aku memeluk Kak Randa erat, “Ya Allah, kak… banyaknya dosaku. Aku minta doanya agar Allah mau mengampuni dosaku.”

“Aamiin… Dinda Syam… dari sekarang, kurangilah hubunganmu dengannya. Sibukanlah dirimu di skripsi dan dakwah. Jika kau butuh sesuatu, kau punya banyak saudara akhwat. Mereka siap membantumu. Libatkan Allah… libatkan Allah dalam setiap langkahmu. Lupakan Saris. Lupakanlah dia.”

“Iya, kak” Aku menyeka air mataku.

“Tapi, kalau seandainya dia datang ya mesti siap-siap!” Hahaha Kak Randa tertawa.

“Yaaaaaaa kakakkkkkk… jangan sampai kaaaak.. Aku gak suka sama Bang Saris. Wallahi!” Aku mengangkat tanganku.

“Memang yang menentukan jodoh seseorang kamu? Ahihihi…” Kak Randa kembali terkekeh.

“Sudah… sudah… aku bener-bener taubat kak. Insya Allah aku akan menghubungi Bang Saris kalo aku mau mengembalikan uangnya beliau dan meminta tolong padanya agar tidak menghubungiku lagi.”

“Sip… itu baru Syam adindaku nan solehah.”

Aku dan Kak Randa saling berpelukan. Ah… Kak Randa, andai kau tahu bahwa aku mengharapkan Bang Saris benar-benar datang, tapi bukan untukku, melainkan untukmu.

--

Voe Nahl Belajar dari Khadijah

Jumat, 21 Januari 2011

Perempuan yang Mengerikan: Bak Ratu Lebah dan Kupu-Kupu Malam

Hanas dan Acha sedang berduaan di Mushola Sekolah tempat mereka mentoring. Tiba-tiba lewatlah beberapa semut hitam di hadapan Acha.

Acha : “Liat deh Han!”
Hanas: “Semut?”
Acha: “Ya. Mereka itu tiap bertemu selalu menyapa.”
Hanas: “Ukhuwah mereka bagus ya. Gue denger-denger kalau mereka gak saliman gitu, mereka bakal mati ya Cha?”
Acha: “Ya gitu. Soalnya, saat mereka berpas-pasan terus seolah salaman gitu, mereka itu saling memberi informasi. Misalnya, ‘eh, lu jangan lewat sono! Di sono kagak ada makanan!’ atau ‘awas lu, barusan di sebelah sana ada rayap yang guede yang lagi nyari mangsa.’ Nah kalo mereka gak saling ngasih tahu. Mereka bisa mati karena gak tahu info.”
Hanas: “Owh gitu toh?”
Acha: “Ye, selain itu. Mereka itu juga mengeluarkan bau yang khas, dan penciuman mereka tajam. Itu yang menyebabkan mereka itu jarang kesasar.”
Hanas: “Wwweeh, semut emang keren ya Cha!”
Acha: “Yupi! Sewaktu gue belajar tentang hewan anvertebrata ini. Dosen gue bilang, kalau mereka ini ada 3 jenis, Ratu semut, semut pekerja, sama semut jantan.”
Hanas: “Oowh, so sweet.”
Acha: “Nah, Ratu semut itu tugasnya Cuma kawin dan bertelur. Bentuknya paling gede dari yang lain. Pokoknya beda sendiri deeh. Sayang tabiatnya ngeri banget.”
Hanas: “Maksud ente?”
Acha: “Habis kawin, si Ratu memangsa semut jantan yang ngawini dia. Jadi gak ada pilihan lain bagi semut jantan selain mati.”
Hanas: “Gila! Kejam banget tu Ratu! Lebih kejam dari ratu-ratu Inggris.”
Acha: “Yup! Malam itu adalah malam terakhir dan pertama bagi si semut jantan.”
Hanas: “Ya ampuun. Kesian banget para semut jantan.”
Acha: “Nah, si Ratu ini ibarat perempuan yang gak tahu diri.”
Hanas: “Iya, gak tahu diri banget!”
Acha: “Ya, tapi gitulah kehidupan hewan. Hehe. Betina lebih kejam dari yang jantan.”
Hanas: “Bersyukur banget jadi manusia. Satu dan untuk satu. Kalau bisa yang pertama dan yang terakhir, fufufu.”
Acha: “Yoi, nah ada lagi yang seru Han.”
Hanas: “Apaan?”
Acha: “Di dunia kupu-kupu juga dikenal ada dua jenis, yaitu kupu-kupu siang ama kupu-kupu malam.”
Hanas: “Waah, hebat!”
Acha: “Dosen gue pernah nanya, ‘Kalian pernah liat gak kupu-kupu malam?’. Dan spontan temen-temen gue jawab, ‘Tuh pak yang sering mangkal di XXX’. Haha. Dasar, pikirannya ke sana mulu.”
Hanas: “Mang gimana ceritanya?”
Acha: “Jadi gini. Cara bedainnya, kalau lu liat kupu-kupu itu hinggap trus sayapnya mengatup atau menyatu, itu artinya dia kupu-kupu siang. Nah, kalo dia melebar atau mengembang itu namanya kupu-kupu malam, untuk segi ukuran mereka emang lebih guede!”
Hanas: “Huawwwh. Jadi itu toh filosofinya.”
Acha: “Pa’an?”
Hanas: “Seorang perempuan baik, akan menutup dirinya dari hal-hal yang gak baik. Sedangkan perempuan malam, membuka dirinya untuk siapa saja.”
Acha: “Yup!”
Hanas: “Alhamdulillah, gue manusia dan gue dikasih otak sama Allah. Dan gue gak mau, nafsu gue yang ngendaliin gue. Thanks for share, sob”
Acha: “Na’am.”


Kisah pagi Jum'at dengan sedikit edit. ^_^