Hidup adalah jual beli, maka jadikan Allah sebagai mitra bisnis, kemudian jadilah entrepreneur sejati. Hidup hanya sekali dan mesti manfaat!! Selamat datang di Blognya si Voe. ^_^ Salam ukhuwah.

Jumat, 29 Januari 2010

Mereka di Tengah Aksi

Aksi di tengah guyuran hujan kali ini emank luar biasa. Sangat luar biasa. Bukan. Bukan para orator yang menarik perhatianku kali ini. Tapi ada beberapa orang di antara para demonstran yang membuat mataku lekat pada mereka.

1.    Seorang Kakek Bertongkat
Humph, aku memang tak tahu namanya. Tapi, tampilan fisik yang begitu terngiang dalam ingatanku ialah kakek itu memegang tongkat untuk membantunya berjalan. Saat hujan mulai turun rintik-rintik di jalan Soeprapto, kakek itu selalu mengawasi kami dan mengikuti kami dari samping. Kemudian, tampak ia berbicara dengan beberapa aktivis demonstran di barisan laki-laki. Lalu tak lama ia menuju demonstran wanita dan berteriak seraya berdoa, “Semoga hujan ini berhenti. Berjuanglah kalian, uang kita sudah banyak di ambil mereka (birokrasi-red).” Ya, kurang lebih begitulah. Tak ku sangka ia tetap memantau hingga orasi di Simpang Lima.


2.    Seorang Ibu Berpayung
Ibu itu ialah satu-satunya orang yang berpayung di tengah aksi. Dan tampak beberapa temannya ikut berteduh di bawah paying yang ia bawa. Beliau adalah aktivis KPI (Koalisi Perempuan Indonesia), bisa dibilang sebagai aktivis wanita Bengkulu. Yang luar biasa dari ibu ini tentu saja bukan payungnya, namun pemikiran yang keluar dari mulutnya, saat aktivis Wanita Pergerakan dari Universitas Bengkulu mengajaknya bertanya di tengah demo dan orasi. Yeah, pemikiran yang hampir sama dengan diriku. Dia tidak setuju jika demo kali ini ialah demo untuk impitcment SBY (penggantia Presiden SBY), bukan karena ibu ini Pro Presiden, tapi karena lebih menyayangkan uang rakyat yang keluar tatkala harus ada pemilu lagi. Gila!! Bayangin aja berapa miliar bahkan triliun uang keluar cuma untuk mencari presiden dzolim seperti ini lagi!!! Cih. Dan tentu saja hal tersebut menambah penderitaan rakyat yang jelas-jelas banyak yang menderita. Ibu berpayung berharap setelah aksi ini aka nada audienci dan sebaiknyalah sebelum aksi ini diadakan control dan agenda diskusi, agar aksi tepat sasaran. Akhir kata ibu ini berpesan, “Kita perempuan, harus kritis.”

3.    Seorang Kakek Berpespa
Ada yang luar biasa kulihat saat aksi. Seorang kakek berpespa ikut aksi di perjalanan dari Simpang Lima menuju KAJATI.Kakek tersebut begitu lincah dan sering berbicara, dari mendukung mahasiswa, hingga mengkritik mahasiwa. Mendukung mahasiswa karena pemerintahan 100 hari SBY yang bisa dibilau kascau!! Dan mengkritik mahasiswa, karena tiap orasi, dikit-dikit yang dibilang, “HIDUP MAHASISWA”. Akhirnya, kakek tersebut teriak dan meninginkan orator meneriakkan, “HIDUP RAKYAT INDONESIA DARI SABANG SAMPAI MERAUKE.”

Tingkah kakek ini acap kali membuat sebagian demonstran hingga polisi tertawa, benar-benar lucu!! Bukan cuma itu, beliau juga hobi menganggu orator. Hebatnya menjelang  dzuhur beliau mengingatkan para demonstran untuk menghentikan aksi dan sholat, lebay-nya kakek ini mengingatkan itu 1 jam sebelum dzuhur. Ckckck.

Aku tersenyum pada kakek itu dan ingin tahu apa yang dirasakannya. Tapi, tak seperti yang kubayangkan. Ia mengucapkan salam sebanyak tiga kali, dan aku tak membalas salamnya. Bayangkan wahai sobat, saat itu sedang hujan dan telingaku tertutup jilbab, hingga tak bisa kudengar dengan baik suaranya yang sudah mulai tak jelas jika berbicara. “Samualaykum!!” Aku tetap tersenyum tak tau harus bagaimana. Lalu ia memberikan tanganny padaku, bingung bener diriku dibuatnya, yah dia kakek-kakek dan seharusnya aku menjabat tangannya, tapi aku sudah terbiasa tidak bersalaman dengan laki-laki yang bukan mahromku. Ia kemudian bertanya, “Apa agama kau ini?!” Aku terlonjak tersadar kalau barusan ia mengucapkan salam, kemudian kubalas, “Wa’alaykumusalam.” Kakek itu esmossi. Sudah tangan tak dijabat, salam tak dibalas, akhirnya ia menarik ujung jilbab di atas kepalaku, “Lepas saja jilbabmu ini!!” Ces, luar biasa, terima kasih ya Robb telah mengingatkan aku untuk menghargai orang lain.

4.    Pemuda Berkaki Tiga
Yah, seorang pemuda bertongkat ini menarik perhatianku. Bukan karena sudah tua dan tak sanggup lagi berjalan hingga ia harus memakai tongkat. Melainkan kaki kanannya yang cacat yang harus membuatnya memakai alat bantu berjalan. Ia ikut longmarch di tengah hujan hingga KAJATI. Dan ia sangat serius mengikuti jalannya aksi 100 hari pemerintahan yang lalu. Ia tak duduk, tak merasa lelah, dan tak istirahat seperti demonstran yang lain. Ia tetap berdiri tegak walau aku yakin ia sudah mulai kecapaian. Hem,, aku ingat saudariku, Uni, yang tetap sabar dan semangat menuntut ilmu dengan kondisi kakinya yang polio. Yah, mereka membuat hidupku lebih hidup. Mereka membuatku tersenyum dikala letih dan kebosananku menyerang.

5.    Akhowat Dengan Catatan Kecil di Tangannya
Wanita berjilbab putih, bertas ransel sejak aksi dimulai memegang pena hitam dan kertas catatannya. Sesekali dia memotret jalannya aksi dengan kamera handphone 2,0 MP. Terkadang ia bisa di belakang, di depan, di atas trotoar, bahkan terpisah dari teman-temannya yang lain. Beberapa mbak senior menegur nya, “Dinda, jalannya manis-manis dikit dong, masa ngangkang begitu!!” Sang akhowat hanya tertawa dan meninggalkan ayundanya untuk mencatat tulisan-tulisan yang ada karton. Yeah, jalannya memang lebar dan terkadang seperti laki-laki, tapi ia nyaman dengan dirinya.

Yah, itulah aku, mahasiswi UNIB dengan panggilan jiwa, berlari, mencatat, memontret dan bertanya untuk mendapatkan berita. Yeah, beajurnalis!!!

Aku tak menyesal datang aksi kali ini, walau harus kehujanan hampir selama tiga jam lamanya. Dengan pakaian dan kaos kaki yang basah. Mendapatkan hikmah luar biasa dalam aksi kali ini, telah membuatku sedikit mengerti.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih atas silaturahminya.
Tolong tinggalkan jejak Anda. Salam Ukhuwah. ^.~