Kapan Voe ke Jakarta?
Aku gak sedih lagi, kalau kamu ke Jakarta!
Ntar ana antar ke kuliner di Jakarta, deh.
Itulah tiga potong kalimat yang menjadi salah satu motivasiku kenapa harus ke Jakarta. Menemui sobat dunia mayaku yang kukenal lebih dari setahun yang lalu lewat Facebook.
Komunikasi kita berlanjut via SMS. Entah kenapa awal perkenalan via dunia maya dan SMS membuatku ingin sekali menjumpaimu.
Allah Maha Besar, Allah memberi rezeki dari arah yang tak diduga. Subhanallah, Allah memberiku peluang ke Jakarta untuk mewakili Kopma kampusku lomba di Universitas Indonesia, Depok. Salah satu keinginanku akan terkabul, berjumpa denganmu, Ndah.
Sehari sebelum berangkat, aku membeli soevenir khas Bengkulu dan makanan khas Bengkulu. Aku membeli manisan terong, anak tat, dan pisang salay dari Bengkulu. Ku susun rapi makanan itu dan ku beri bungkus berwarna putih.
Sengaja aku datang lebih cepat ke Jakarta, untuk mengikuti agenda Salam UI "10 jam 10 juz", dan aku harap kau datang saat itu. Dan kau bilang padaku, kalau kau akan datang, walau tak mengikuti agenda hingga selesai. Kusiapkan semua bingkisan untukmu di dalam tas ranselku. Namun, aku mengerti, kau seorang aktivis, ada agenda penting dan mendesak yang membuatmu tak datang pada hari itu. Tapi, harapan itu tetap ada, aku bisa menjumpaimu esok harinya, saat aku bermalam di Depok. ^,^
Hari Rabu, seusai perlombaan, kau mengajakku untuk iftor bareng besoknya di hari Kamis via SMS. Alhamdulillah, ada makanan dari teman satu timku yang belum di makan malam itu, jadi aku bisa makan sahur agar bisa puasa. Dan aku sangat senang membayangkan kita pergi ke Detos untuk iftor jama'i. Kita saling sepakat untuk bertemu di stasiun UI, padahal aku tak tahu jalan menuju stasiun UI. Namun, aku tetap ingin menjumpaimu. Tentu ini akan menjadi pelipur kekecewaanku akan hasil perlombaanku. Namun, Allah maha Bijaksana, Allah menurunkan hujan di saat kita akan pergi bersama. Akhirnya, aku berbuka sendiri dengan susu kotak kemarin sore.
Hmmm...
Jum'at pagi, hari terakhirku berada di Depok. Aku keliling UI dan kau meneleponku. Ku katakan, "Jangan sampai kita gak ketemu." Dan kau jawab, "Iya, padahal kita sudah dekat". Jum'at sore seharusnya aku dan timku sudah kembali ke Bengkulu, namun ku bujuk mereka untuk menambah satu hari lagi di Jakarta, agar bisa jalan-jalan besoknya.
Sabtu, tak kudengar kabar darimu. Aku menginap di penginapan wilayah Jakarta Timur. Pukul 09.58 wib., kau meng-SMS-ku untuk mengajak bertemu ba'da dzuhur nanti siang. Hati ku menangis ketika itu juga. Tak terasa air mataku juga jatuh. Hp kupegang lemas, dan kukatakan bahwa jam 10.00 aku sudah pulang ke Bengkulu dan saat itu aku sudah berada di atas kendaraan yang siap melaju ke Bengkulu.
Aku lihat bingkisan putih yang hanya berisi dua jenis makanan lagi. Aku tak mau membawanya kembali ke Bengkulu, bingkisan ini harus ada yang mengambilnya. Semenit sebelum berangkat, aku turun menuju loket menitipkan bingkisan itu untuk seseorang agar diambil. Di tengah perjalanan, aku bahagia, akhirnya bingkisan itu tidak kembali lagi ke Bengkulu. Alhamdulillah ada yang mengambilnya.
Di kampus pagi ini, dua hari sepulang dari Jakarta, aku membuka kantong ransel. Di dalamnya ada sovenir gantungan khas Bengkulu yang ingin kuberikan pada Indah. Masya Allah, timbul kesedihan lagi dalam hatiku. Sovenir ini belum sampai ke tanganmu. Allah belum mempertemukan kita.
Entah sebulan, setahun atau mungkin kita tidak akan pernah bertemu. Tapi, satu hal. Terima kasih telah memotivasiku hingga sejauh ini. Ndha, aku bisa lihat monas dengan dekat, aku bisa jama'ah di masjid Istiqlal Jakarta, dan aku bisa bermalam di Depok, tentu saja, ini tak lepas dari motivasimu. Menjadi temanmu adalah indah. Syukron sahabat. Selanjutnya, tunggu aku di stasiun UI.
Voe Khadijah
Aku gak sedih lagi, kalau kamu ke Jakarta!
Ntar ana antar ke kuliner di Jakarta, deh.
Itulah tiga potong kalimat yang menjadi salah satu motivasiku kenapa harus ke Jakarta. Menemui sobat dunia mayaku yang kukenal lebih dari setahun yang lalu lewat Facebook.
Komunikasi kita berlanjut via SMS. Entah kenapa awal perkenalan via dunia maya dan SMS membuatku ingin sekali menjumpaimu.
Allah Maha Besar, Allah memberi rezeki dari arah yang tak diduga. Subhanallah, Allah memberiku peluang ke Jakarta untuk mewakili Kopma kampusku lomba di Universitas Indonesia, Depok. Salah satu keinginanku akan terkabul, berjumpa denganmu, Ndah.
Sehari sebelum berangkat, aku membeli soevenir khas Bengkulu dan makanan khas Bengkulu. Aku membeli manisan terong, anak tat, dan pisang salay dari Bengkulu. Ku susun rapi makanan itu dan ku beri bungkus berwarna putih.
Sengaja aku datang lebih cepat ke Jakarta, untuk mengikuti agenda Salam UI "10 jam 10 juz", dan aku harap kau datang saat itu. Dan kau bilang padaku, kalau kau akan datang, walau tak mengikuti agenda hingga selesai. Kusiapkan semua bingkisan untukmu di dalam tas ranselku. Namun, aku mengerti, kau seorang aktivis, ada agenda penting dan mendesak yang membuatmu tak datang pada hari itu. Tapi, harapan itu tetap ada, aku bisa menjumpaimu esok harinya, saat aku bermalam di Depok. ^,^
Hari Rabu, seusai perlombaan, kau mengajakku untuk iftor bareng besoknya di hari Kamis via SMS. Alhamdulillah, ada makanan dari teman satu timku yang belum di makan malam itu, jadi aku bisa makan sahur agar bisa puasa. Dan aku sangat senang membayangkan kita pergi ke Detos untuk iftor jama'i. Kita saling sepakat untuk bertemu di stasiun UI, padahal aku tak tahu jalan menuju stasiun UI. Namun, aku tetap ingin menjumpaimu. Tentu ini akan menjadi pelipur kekecewaanku akan hasil perlombaanku. Namun, Allah maha Bijaksana, Allah menurunkan hujan di saat kita akan pergi bersama. Akhirnya, aku berbuka sendiri dengan susu kotak kemarin sore.
Hmmm...
Jum'at pagi, hari terakhirku berada di Depok. Aku keliling UI dan kau meneleponku. Ku katakan, "Jangan sampai kita gak ketemu." Dan kau jawab, "Iya, padahal kita sudah dekat". Jum'at sore seharusnya aku dan timku sudah kembali ke Bengkulu, namun ku bujuk mereka untuk menambah satu hari lagi di Jakarta, agar bisa jalan-jalan besoknya.
Sabtu, tak kudengar kabar darimu. Aku menginap di penginapan wilayah Jakarta Timur. Pukul 09.58 wib., kau meng-SMS-ku untuk mengajak bertemu ba'da dzuhur nanti siang. Hati ku menangis ketika itu juga. Tak terasa air mataku juga jatuh. Hp kupegang lemas, dan kukatakan bahwa jam 10.00 aku sudah pulang ke Bengkulu dan saat itu aku sudah berada di atas kendaraan yang siap melaju ke Bengkulu.
Aku lihat bingkisan putih yang hanya berisi dua jenis makanan lagi. Aku tak mau membawanya kembali ke Bengkulu, bingkisan ini harus ada yang mengambilnya. Semenit sebelum berangkat, aku turun menuju loket menitipkan bingkisan itu untuk seseorang agar diambil. Di tengah perjalanan, aku bahagia, akhirnya bingkisan itu tidak kembali lagi ke Bengkulu. Alhamdulillah ada yang mengambilnya.
Di kampus pagi ini, dua hari sepulang dari Jakarta, aku membuka kantong ransel. Di dalamnya ada sovenir gantungan khas Bengkulu yang ingin kuberikan pada Indah. Masya Allah, timbul kesedihan lagi dalam hatiku. Sovenir ini belum sampai ke tanganmu. Allah belum mempertemukan kita.
Entah sebulan, setahun atau mungkin kita tidak akan pernah bertemu. Tapi, satu hal. Terima kasih telah memotivasiku hingga sejauh ini. Ndha, aku bisa lihat monas dengan dekat, aku bisa jama'ah di masjid Istiqlal Jakarta, dan aku bisa bermalam di Depok, tentu saja, ini tak lepas dari motivasimu. Menjadi temanmu adalah indah. Syukron sahabat. Selanjutnya, tunggu aku di stasiun UI.
Voe Khadijah
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Terima kasih atas silaturahminya.
Tolong tinggalkan jejak Anda. Salam Ukhuwah. ^.~