Hidup adalah jual beli, maka jadikan Allah sebagai mitra bisnis, kemudian jadilah entrepreneur sejati. Hidup hanya sekali dan mesti manfaat!! Selamat datang di Blognya si Voe. ^_^ Salam ukhuwah.

Selasa, 28 Juli 2015

Pengalaman MOS OSIS-ku

Menyimak pernyataan Menteri Pendidikan Nasional, Prof. Anies Baswedan pagi ini (29/7) di program Apa Kabar Indonesia tvOne, tentang ‘perintah’ bagi pimpinan sekolah atau kampus agar memperhatikan semua kegiatan OSPEK ataupun MOS di kampus dan sekolah masing-masing. Jangan ada perloncoan dan MOS atau OSPEK yang tidak beradab. Hal tersebut mengingatkan saya pada kejadian sekitar 6 tahun lalu, tepatnya saat saya duduk di kelas XI SMA.

Prof. Anies Baswaden (www.antaranews.com)
Saat itu saya memang sudah kelas XI (kelas 2), jadi MOS yang saya maksud adalah MOS untuk pengurus OSIS. Yess, pasalnya waktu itu saya menjadi salah satu pengurus OSIS. Nah, yang ingin saya ceritakan adalah pengalaman saya yang masih teringat hingga saat ini. Hihi… Tenang, saya gak ketemu cowok kece kok, jadi gak bakalan cerita cinta-cintaan ala remaja-remiji anak SMA.


Saya mau berbagi kisah tentang perloncoan mental yang dilakukan senior saya waktu itu. Wew. Tidak bermaksud membuka duka dan aib lama, tapi semoga bisa diambil hikmahnya. Ceritanya, kami, para pengurus OSIS yang baru dibagi menjadi beberapa kelompok. Tiap kelompok akan masuk ruangan orientasi, ruangan tersebut terdiri dari ruang uji mental, dll. Nah tim kami memutuskan untuk masuk ke salah satu ruangan yang telah disediakan, Qodarullah… ruangan yang kami masuki tersebut adalah uji mental. Terlihatlah para sesepuh kelas 3 yang terkenal dengan ketegasan dan kekejian lisannya menyuruh kami masuk lewat kolong meja yang telah diletakkan tepat di depan pintu.

Saat itu kan masih ‘polos’, jadi ya diikuti aja. Kami di suruh berdiri di depan kelas dan memperkenalkan diri. Gak tahu gimana ceritanya, seorang senior yang berbadan besar berdiri di depan saya. Teriak dengan kencang di depan saya. Tapi saya biasa aja, malah sempat tak kasih senyum #hedeeh… Eh, dikasih senyum si kakak malah tambah garang, malah teriak pas di telinga kiri saya. Wah, parah deh. Padahal, aku tu gak bisa digituiiiin.. hiks… Setelah itu, beneran, saya gak bisa senyum lagi. Senior yang selama ini saya kagumi karena kepintarannya, reputasinya hancur seketika dan terlihat sangat rendah lebih rendah di banding alas sepatu saya. Hahaha..

Untungnya saya sudah masuk Rohis, jadi gak ngejablak seperti waktu di SMP. Yaa.. istighfar sambil dinikmati. Di hari-hari biasanya senior ini sering kasih saya senyum, tapi, sungguh pun, tak ngaruh sedikitpun senyumnya itu sama saya. Beneran! Bekas teriakan itu yang terekam jelas di otak saya. Bukan senyum manisnya. Si kakak ceritanya masuk kampus beken di Indonesia ini, lulus jadi sarjana daftar jadi caleg yang konon katanya caleg termuda dan menang pula. Beeeh.. kece badai.

Intinya di sini, sejak kejadian itu, saya TIDAK BERKONTRIBUSI SAMA SEKALI di OSIS. TIDAK SAMA SEKALI!!! NO!!! Saya gak pernah datang rapat. Saya gak pernah mau tahu agenda OSIS. Saya gak suka dengan yang namanya OSIS. Trauma? NO! Benci? NO!. Gak tahu dah, pokoke saya gak tahu menahu soal OSIS-OSIS-an. Ehhe.. Dan komitmen saya, ketika nanti jadi senior, pengen jadi senior yang baik aja. Gak mau ngebentak anak orang. Gak mau nyakitin hati anak orang. Apalagi nilap barang-barangnya.

Saya aktif di Rohis, di sana saya berkontribusi full-full-an. Saya pernah terjatuh, dibentak, dengan kondisi yang enggak enak dan masalah pun juga banyak mampir. Tapi, saya tetap struggle. Karena saya tahu ini REAL. Bukan macam senior kece badai yang SOK PURA-PURA GARONG kayak SRIGALA, yang sampai sekarang masih terekam kelakuannya.

Di kampus pun. Saya masih bisa berkontribusi di berbagai organisasi yang masalahnya jauh lebih besar dibandingkan sebuah bentakan. Tapi, saya masih bisa bertahan dan berjuang di organisasi tersebut. Alhasil saya menyimpulkan hal sederhana ini, setiap orang memiliki sudut pandang yang berbeda, saya tergolong manusia yang tidak suka dipermainkan, tidak menyukai kekerasan dan bentakan. Kita tidak butuh simulasi mental, karena kita bukan anak militer. Kita anak sipil biasa yang sesungguhnya tes mental yang sebenarnya ada di depan mata. Gak perlu bentakan, cacian, dan makian.

Untuk senior saya yang tadi. Maaf ya kak. Mungkin suatu saat kamu bisa mengenggam tangan saya erat, menatap mata saya penuh cinta, serta memberi saya senyum tulus ikhlas, agar rekam jejak kekejamanmu bisa hilang dibenakku. Agar cantikmu muncul dengan leluasa. Selamat menempuh amanah baru sebagai wakil rakyat. Jangan garong-garong, kak! Allah SWT gak suka!

Voe, 29-7-2015



Voe Nahl Belajar dari Khadijah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih atas silaturahminya.
Tolong tinggalkan jejak Anda. Salam Ukhuwah. ^.~