Hidup adalah jual beli, maka jadikan Allah sebagai mitra bisnis, kemudian jadilah entrepreneur sejati. Hidup hanya sekali dan mesti manfaat!! Selamat datang di Blognya si Voe. ^_^ Salam ukhuwah.

Senin, 20 Juni 2011

Gadis Kecil di Pinggir Jalan

Dari kaca kurang dari 80% itu aku menatap mereka. Seorang bocah ikal berambut cokelat tengah mengendong bocah yang lebih kecil lagi. Dia duduk di dekat tiang adver. baliho besar makanan lezat murah meriah. Bocah yang lebih besar mengibas-ibas bocah yang kecil, menjaga tidurnya agar nyamuk tak menyantap darah kaki si kecil yang hanya bercelana pendek. Kedua gadis kecil ini, menunjukkan potret Bengkulu Kota Pelajar. Oupz... Kota Pelajar?

Sang kakak (bocah yang besar) kira-kira berusia 8 tahunan, atau mungkin lebih kecil lagi, menatap adiknya (bocah yang kecil) kira-kira berusia 4 tahunan sambil memegang uang ribuan dua lembar. Siapa mereka? Jika mereka mengemis, mengapa mereka tak meminta? Dimana rumahnya? Aih gadis kecil ini benar-benar membuatku meringis.

Sepuluh menit lalu sebelum aku bertemu mereka, aku dan keluarga besar makan di sebuah warung makan yang jaraknya lumayan jauh dari rumah. Hari ini, 20 Juni 2011, kakakku berulang tahun yang ke-24. Beliau mengajak kami makan di luar. Sekaligus syukuran atas kesembuhan papa. Melihat mereka yang dengan kondisi seperti itu, aku benar-benar bersyukur atas limpahan rahmat yang Allah berikan padaku. Sungguh, tak pantas sekali jika aku kufur pada nikmat-Nya.

Aku tak membawa camdic-ku, sehingga tak ku abadikan gadis kecil itu. Tapi, kulihat beberapa pengguna motor menatap mereka dengan simpati. Oh, aku tak membawa uang sama sekali, ingin memberi makanan, teh botol yang kupegang juga sudah kosong tinggal botolnya.

Dua jam yang lalu, sebelum aku bertemu dengan mereka. Aku berkumpul dengan calon entrepreneur sejati, para wirausaha muda Kopma Unib. Kami iftor jama’i plus tukar kado setelah sebelumnya taujih bersama Ustad Hasbie. Agenda kami kali ini adalah sedekah. Para pengurus sedekah besar-besaran saling memberi menu takjil. Hiks, lagi-lagi aku merasa haru. Bersyukur sekali telah dianugrahi rezeki berupa teman-teman yang luar biasa dan makanan takjil yang melimpah.

Gadis kecil itu hanya diam. Diam tak bersuara. Mereka hanya menyampaikan komunikasi nonverbal mereka. Dan mereka telah mengikat mata dan hatiku untuk terus menatap mereka hingga lampu jalan berwarna hijau. Tinggallah mereka bersama kepulan asap-asap kenalpot mobil dan motor. Ah, gadis kecil. Maafkan aku yang tak bisa berbuat apa-apa. Tapi, doaku untuk kalian, ku harap kalian menjadi gadis solehah dan sukses dunia akhirat. Menjadi ibu bangsa, karena negara ini ada di tangan kalian. Gadis kecil. Aku pun pernah seperti kalian. Kuharap, bersabarlah. Ada cahaya terang di sana.

Bulan Purnama

Gadis kecil berbaju lusuh
Duduk bermalam di bawah atap langit
Sembilu di balik dinding kenalpot
Beralas permadani hijau rerumputan
Gadis kecil berselimut malam
Berlindung di bawah pelapon bintang
Berteduh di bawah tudung bulan
Alangkah luasnya rumah kau wahai gadis kecil
Gadis kecil bermata sayu
Satu persatu mobil dan motor itu lalu
Hanya menyisakan debu-debu
Sebagai makan malammu
Wahai gadis kecil berbaju kumal
Betapa aku ingin kau beranjak besar
Sebesar hatimu saat ini
Tumbuh di bawah atap rumah
Berlindung di balik dinding beton
Dan menginjak marmer yang dingin
Insya Allah, suatu saat nanti, sayang
Bersabarlah....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih atas silaturahminya.
Tolong tinggalkan jejak Anda. Salam Ukhuwah. ^.~